KUTAI KARTANEGARA – Memperkenalkan kekayaan budaya khas kalimantan bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti yang dilakukan oleh Mery, salah satu pengrajin asal Tenggarong (Kutai Kartanegara) yang membuat masker kain dengan hiasan Sulam Tumpar.

Untuk membuat satu buah masker Sulam Tumpar, ada sejumlah rangkaian yang harus dilalui, mulai dari penyiapan bahan berupa kain, membuat pola, mengatur komposisi warna benang dan selanjutnya proses penyulaman dengan mengikuti pola yang sudah digambar diatas kain.

Sulam tumpar yang dikerjakan secara manual inilah menjadi ciri khas produk masker kain yang dibuat oleh Mery. Masker unik dan menarik ini cukup diminati, terbukti masker buatan Mery ini laku keras di pasaran.

“Penjualan tidak hanya di seputaran Tenggarong, tapi juga sampai ke Kota Samarinda, Kabupaten Kutai Barat, hingga Surabaya, Sulawesi bahkan Jakarta,” jelas Mery.

Masker beraneka warna dan motif ini tidak terlalu mahal disbanding dengan hasil dan keindahan yang didapatkan. Dirinya menjual dengan harga Rp 50 ribu untuk 1 sisi sulaman dan Rp 80 ribu untuk dua sisi sulaman.

“Pemesan bebas memilih satu sisi atau dua sisi Sulam Tumpar pada masker kain,” tambahnya.

Selain produk masker kain dengan hiasan Sulam Tumpar, Mery juga sedang membuat masker dengan hiasan batuan manik, masker Tenun Badong Tencep dan berbagai kerajinan tas Sulam Tumpar khas Dayak Benuaq.

Untuk Informasi, Suku Dayak Benuaq merupakan Suku Dayak yang berasal dari Kabupaten Kutai Barat.

SAMARINDA– Pemenang lomba foto dalam rangka HUT ke-73 Kemerdekaan RI kerjasama Biro Humas Setda Provinsi Kaltim dan PT Migas Mandiri Pratama (MMP) resmi diserahkan pada Rabu (23/9) di Kantor PT MMP, The Concept, Karang Paci.

Penyerahan hadiah dilakukan Kepala Bagian Kehumasan, Andik Riyanto mewakili Kepala Biro Humas Setda Provinsi Kaltim, HM Syafranuddin. Sementara dari pihak MMP diwakili Direktur Umum dan Sumber Daya Manusia Yahya Toding Datu.

“Lomba foto ini ternyata sangat banyak peminatnya. Ada enam pemenang. Pertama, pemenang satu, dua dan tiga. Kedua, pemenang harapan satu, dua dan tiga. Ditambah satu pemenang favorit dengan jumlah like dan komentar terbanyak dari foto yang kami share di Instagram Pemprov Kaltim,” kata Andik Riyanto saat memberi sambutan.

Kepada para pemenang lomba, Andik mengingatkan agar prestasi ini terus ditingkatkan untuk mengasah kemampuan. Sebab yang terpenting kata Kabbag Humas ini, kemampuan teknik fotografi itu harus terus diimplementasikan dalam rutinitas kerja masing-masing hingga menghasilkan karya-karya foto terbaik.

Sementara kepada pihak MMP, Andik berharap agar kegiatan lomba seperti ini bisa terus ditingkatkan dengan kualitas yang lebih baik. Dia juga berharap perusahaan daerah yang lain, termasuk swasta bisa berkontribusi dalam kegiatan-kegiatan positif semacam ini.

“Selamat kepada para pemenang,” tutup Andik.

Wakil Gubernur Kaltim, H Hadi Mulyadi resmi membuka Pagelaran Seni Budaya Tingkat SLTA se Kaltim 2020. Dihadiri Kadisdikbud Kaltim, Anwar Sanusi dan Kepala UPTD Taman Budaya Ismid Rizal.
Waktu pelaksanaan selama lima hari, sejak 21-25 September 2020. Even ini digelar secara virtual dan langsung di Gedung Bahimung UPTD Taman Budaya Provinsi Kaltim. Peserta dari kabupaten dan kota se Kaltim sebanyak 100 peserta.
“Meski di masa pandemi virus Covid-19, tapi aktivitas anak bangsa harus terus terlaksana, terutama membangun prestasi di bidang seni dan budaya,” kata Hadi Mulyadi, Selasa (22/9/2020).

Penajam— Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) akan menggelar parade musik di atas sungai di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), kawasan yang telah ditetapkan sebagai calon Ibu Kota Negara (IKN).

“Kami memilih PPU sebagai parade musik di atas sungai pada 25 September tahun ini, karena tema yang kami angkat adalah ‘Dari IKN Untuk Nusantara’. Parade ini akan disiarkan secara live melalui youtube,” ujar Kepala Disbudpar Provinsi Kaltim Sri Wahyuni di Penajam, Rabu (16/9).

Hal itu ia katakan setelah melakukan susur Sungai Tunan di Kampung Waru Tua, Kelurahan Waru, sore, guna meninjau langsung lokasi yang akan digunakan untuk parade musik di atas sungai dengan siaran langsung.

Susur sungai sore ini, lanjut Yuni, merupakan peninjauan kedua yang dilakukan pihaknya, setelah peninjauan pertama dilakukan oleh stafnya pekan lalu, kemudian sore ini ia ingin melihat langsung kondisi dan situasi di lapangan.

Ia bersyukur karena Sungai Tunan yang akan dijadikan pertunjukan seni secara virtual tersebut memiliki sejumlah keunggulan, antara lain arusnya tidak deras, di sepanjang riparian ditumbuhi nipah-nipah dan berbagai jenis mangrove, kemudian masih ada beberapa kelompok bekantan, bahkan sejumlah spesies burung pun terlihat.

“Ternyata Kabupaten PPU memiliki sungai yang potensinya luar biasa. Ada nipah-nipah masih padat, aneka jenis mangrove dan beberapa kelompok bekantan yang kita lihat tadi. Kawasan ini tentu memiliki potensi besar dalam pengembangan wisata,” katanya.

Ia melanjutkan bahwa parade musik yang akan digelar pada 25 September, pekan depan, akan ada sejumlah pemusik dan penari yang menyuguhkan atraksi seni di atas perahu sambil menyusuri sungai.

Pihaknya menyuguhkan atraksi seni di atas sungai secara live melalui youtube karena ada beberapa alasan, antara lain untuk menghindari kerumunan massa yang ingin menonton, sehingga siapa pun yang ingin menyaksikan giat ini tidak perlu hadir ke Sungai Tunan, namun cukup membuka chanel youtube.

Alasan lainnya adalah tetap memberi ruang bagi seniman musik maupun seniman tari untuk tetap bisa menyalurkan kemampuannya meski di masa pandemi COVID-19, sehingga karya-karya mereka tetap tersajikan dan dinikmati masyarakat.

“Parade musik di atas sungai pada 25 September mendatang merupakan langkah awal dari rangkaian Peringatan Hari Pariwisata Sedunia tanggal 27 September. Di tanggal 25 September juga akan ada live yang pengambilan gambaranya dilakukan di Penangkaran Rusa di Api-Api, Kecamatan Waru, Kabupaten PPU ini,” ucap Yuni.

Penajam – Bupati Penajam Paser Utara (PPU) Abdul Gafur Mas’ud meluncurkan Desa Sentra Batik yang merupakan satu-satunya pembuatan batik menggunakan mesin canting di Provinsi Kalimantan Timur, sehingga ia optimistis batik lokal ini akan mampu merambah hingga pasar nasional.

“Saya perhatikan model dan motif batik ini sudah bagus, maka saya kasih nilai 10 untuk Desa Bangun Mulya. Apalagi anak-anak mudanya yang mengenakan batik PPU dalam fashion tadi juga sangat keren,” ujar Abdul Gafur Mas’ud saat peluncuran Desa Sentra Batik di Desa Bangun Mulya, Kecamatan Waru, Kamis, (11/9/2020).

Saat ini, katanya, di Provinsi Kaltim baru ada satu produksi batik yang proses pembuatan batik tulisnya menggunakan peralatan modern, yakni di Desa Bangun Mulya, Kabupaten PPU, sehingga diyakini sentra batik yang baru diluncurkan ini akan terus berkembang.

Berkat alat modern ini, maka pembuatan batik yang seharusnya diselesikan dalam waktu cukup lama sekitar satu bulan, maka kini bisa dilakukan hanya dalam waktu dua jam.

Ia juga kagum karena di desa ini sudah mampu mencetak batik prada seperti yang ia pakai, karena harga baju dengan batik prada itu cukup mahal hingga di atas Rp1 juta per lembar, sehingga ke depan diharapkan batik khas PPU ini bisa menjadi kebanggaan untuk oleh-oleh bagi warga yang berkunjung ke PPU.

“Adanya mesin untuk mendukung produksi batik, berarti saat ini PPU sudah melangkah ke tahap modern yang salah satu buktinya adalah memproduksi batik sendiri dengan mesin canting atau mesin kelowong batik,” katanya.

Ia juga terus mendorong kaum muda bukan hanya memiliki wadah untuk berkarya dalam memproduksi batik, namun juga memiliki warung daring hanya melalui smartphone, baik menjual produk melalui medsos, melalui lapak daring, terlebih jika mampu membangun laman sendiri sebagai wadah untuk memasarkan.

“Saya yakin ke depan PPU akan terus maju, modern, bahkan juga religius seperti yang kita inginkan. Apalagi saat ini di PPU sudah memiliki 3 desa dengan status mandiri, 9 desa maju, dan 18 desa berkembang. Sementara kabupaten lain di Kaltim belum ada desa dengan status mandiri,” katanya.

Tana Paser – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Paser akan menurunkan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) untuk memeriksa dan menginventarisir, keberadaan benda terduga cagar alam yang berada di Dusun Mului Desa Swan Selutung, Kecamatan Muara Komam.

Kepala Bidang Kebudayaan Surpiani mengatakan dalam waktu dekat timnya akan ke Dusun Mului untuk memeriksa secara langsung dan mendata benda-benda terduga cagar budaya.

“Setelah kami memeriksa benda tersebut, kami akan lakukan pendaftaran sehingga nanti terdaftar sebagai data cagar budaya yang ada di Kabupaten Paser” ucap Surpiani, Kamis (10/09/2020).

Surpiani mengatakan ada beberapa prosedur yang harus dilakukan untuk menetapkan benda tersebut sebagai cagar budaya.

“Pertama kami menerima informasi, setelah itu kami akan menurunkan tim untuk melakukan pendataan untuk melihat secara langsung benda yang dilaporkan, kemudian dimasukkan ke database dan didaftarkan,” jelasnya.

Ia menambahkan, apabila benda tersebut sudah terdaftar sebagai benda cagar budaya melalui SK Bupati, maka ada hak yang melekat pada benda tersebut.

“Pemerintah dengan masyarakat bersama-sama harus melindungi, melestarikan dan memelihara benda cagar budaya itu,” ujar Surpiani.

Surpiani mengharapkan dukungan dan partisipasi dari masyarakat untuk dapat menginformasikan tentang benda-benda terduga cagar budaya yang dimiliki oleh masyarakat.

“Kami berharap masyarakat bisa menyampaikan informasi tentang nama bendanya, foto, pemilik, sejarah, kegunaan benda, dan kapan dimiliki. data tersebut perlu kami simpan datanya untuk dimasukkan ke dalam database, yaitu jenis benda pusaka atau benda terduga cagar bidaya yang ada di masayarakat,” harapnya.

Penajam– Bupati Penajam Paser Utara (PPU) Abdul Gafur Mas’ud membuka Workshop Tari yang digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat, guna meningkatkan pemahaman peserta sekaligus untuk melestarikan seni dan budaya lokal.

“Semoga workshop ini dapat menumbuhkembangkan seni tari daerah dan dapat menjadi motivasi bagi masyarakat untuk menjaga kelestarian seni tari di Penajam Paser Utara,” ujar Abdul Gafur Mas’ud (AGM) saat membuka workshop di aula Islamic Center Penajam, Selasa (4/8).

Dalam workshop yang diikuti oleh 30 orang perwakilan sanggar tari se- Kabupaten PPU dan berlangsung selama lima hari pada 4-9 Agustus ini, bupati menyambut baik terhadap terselenggaranya kegiatan yang bertujuan untuk pelestarian sekaligus meningkatkan kecintaan generasi terhadap budaya daerah ini.

Ia menyatakan sangat penting bagi semua pihak untuk bersama-sama melestarikan kebudayaan daerah seperti seni tari ini, salah satunya adalah dengan menggelar diskusikan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan tari daerah hingga kreasinya.

Dalam kesempatan itu AGM juga berharap kepada organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, dan instansi yang membidangi seni budaya agar mampu menggali dan memanfaatkan sumber daya maupun potensi seni budaya daerah.

Menurutnya, masyarakat PPU merupakan masyarakat yang heterogen, sehingga berbagai jenis adat, seni dan budaya juga ada di dalamnya, maka rasa menghargai antara budaya satu dan lainnya harus terus dipupuk, salah satunya melalui seni tari.

“Masing-masing dari kita memiliki kelebihan, semoga kita mampu menciptakan kreasi baru baik dari seni tari, seni musik maupun seni lainnya yang tidak melupakan esensi dasar dari seni dan budaya daerah kita,” ucapnya.

Untuk itu, katanya, hal terpenting dalam berkesenian adalah terus menggali potensi diri dan potensi daerah, kemudian mencintai seni dan tradisi daerah sehingga hasilnya bisa bermanfaat bagi masyarakat luas.

Dalam kesempatan itu, Plt Kepala Disbudpar PPU Andi Israwati Latief mengatakan, workshop ini digelar karena masyarakat Kabupaten PPU yang terdiri dari berbagai suku, dibutuhkan formulasi yang bisa menyatukan seluruh etnis ke dalam sebuah karya seni tari dengan harapan bisa menjadi sebuah karya seni tari khas dari Kabupaten PPU.

“Kami memiliki harapan besar hasil dari workshop ini dapat menyatukan seluruh etnis ke dalam sebuah karya seni tari, yakni adanya tari kreasi yang merupakan gabungan dari berbagai etnis yang tinggal di PPU,” ucap Israwati.

Tana Paser – Kampung Dongeng Paser, Kabupaten Paser membentuk relawan di 10 kecamatan guna menggiatkan budaya membaca sejak usia dini.

“Sudah terbentuk di 10 kecamatan. Seperti di Kuaro mereka aktif melakukan kegiatan ke sekolah-sekolah,” kata Ketua Kampung Dongeng Paser Kasrani, Jumat (15/5).

Sejauh ini kata Kasrani sudah ada 22 pendongeng yang aktif di berbagai kegiatan.

“Para pendongeng kami dari berbagai profesi. Ada guru, polisi, tenaga kesehatan,” ujarnya.

Ia menambahkan saat ini para pendongeng masih membutuhkan jam terbang atau pengalaman lebih banyak.

“Makanya kami nanti mau perbanyak workshop bagi pendongeng. Memang sebagian sudah ada yang banyak pengalamannya,” katanya.

Wakil Ketua Kampung Dongeng Paser, Sulistyo Joko Purnomo mengatakan saat ini sudah ada delapan sekolah yang bekerjasama untuk kegiatan dongeng setiap pekannya.

“Mereka memiliki komitmen untuk menggiatkan budaya literasi disekolah,” ujar Joko.

Bahkan kata ia, ada sekolah di Kecamatan Muara Komam yang sudah menindaklanjutinya berupa kerjasama dengan perusahaan.

Joko berharap budaya literasi anak terutama mendongeng dapat ditumbuhkan sejak dini.

Untuk mewujudkan itu, beberapa orangtua pun juga sudah ada yang dilibatkan dengan diberikan pelatihan cara mendongeng.

“Terutama di sini ada peran orangtua sehingga kegiatan mendongeng bisa mulai dipraktekan di rumah,” ujarnya.

 

SAMARINDA – Jambore Pemuda Daerah (JPD) bertujuan untuk meningkatkan kualitas calon peserta dan menetapkan calon peserta Jambore Pemuda Indonesia (JPI) asal Kaltim yang layak dan baik mewakili Benua Etam di ajang tahunan tersebut yang rencananya di tahun 2020 diselenggarakan di Surabaya, Jawa Timur.

Pun demikian di tahun 2020 ini saat dunia dilanda pandemic Virus Corona (Covid 19) penyelenggaraan JPI masih belum ada kepastian mengenai jadi tidaknya dilaksanakan dari Kemenpora RI.
Hal ini disampaikan Kadispora Kaltim, Muhamammad Syirajudin saat memimpin rapat Dispora se-kaltim yang dilaksanakan dengan Video Conference Zoom, Senin (4/5/2020).


“Hingga pelaksanaan rapat ini, Kementerian Pemuda dan Olahraga belum memastikan jadi atau tidaknya kegiatan yang biasanya dilaksanakan bersamaan dengan Hari Sumpah Pemuda tersebut dilaksanakan. Saya sudah berkomunikasi beberapa kali bertanya di WA grup Dispora Indonesia, namun tidak mendapat tanggapan dari pihak Kemenpora khususnya terkait kepastian pelaksanaan,”katanya menanggapi pertanyaan peserta rapat.

Dari rapat tersebut juga diketahui bahwa 3 Kabupaten/Kota di Kaltim memastikan diri tidak mengikuti JPD Kaltim yang akan dilaksanakan di Tenggarong, Kutai Kartanegara. Ketiga daerah tersebut yakni Kota Bontang, Kutai Timur dan Kutai Barat.

“Kami memohon maaf tidak dapat mengikuti Jambore Pemuda Daerah tahun ini dikarenakan anggaran untuk mengikuti kegiatan tersebut telah dialihkan untuk penanganan pandemi Covid 19,”ujar Kadispora Bontang, Bambang Cipto Mulyono.


Hal senada juga disampaikan oleh Kadispora Kutai Timur, Basrie. Dirinya mengutarakan sebagaimana intruksi Bupati Kutim bahwa sebagian besar anggaran dinas dialihkan untuk membantu penanganan Covid-19.

“Sangat disayangkan Kubar, Kutim dan Bontang gak mengikuti Jambore Pemuda kali ini, artinya ada 21 Pemuda, dimana tiap daerah diwakili 7 orang pemuda, yang kehilangan kesempatan menunjukkan potensinya untuk mengikuti Jambore Pemuda Indonesia dan bertemu dengan seluruh pemuda di tanah air,”sayang Syirajudin.

Kaltim sendiri sebenarnya merupakan Provinsi pertama yang menggelar JPD sebagai ajang seleksi bagi pemuda sebelum mengikuti JPI pada tahun 2012 lalu dan tahun ini sejatinya merupakan gelaran yang ke delapan.

 

Sumber : Dispora Kaltim

Samarinda— Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Samarinda Puji Setyowati resmi membuka galeri Dekranasda yang berada di Jalan S.Parman (belakang taman cerdas), Selasa (10/3).

Dalam kesempatan tersebut dirinya mengatakan galeri ini merupakan tempat sampel produk yang sudah terakurasi dengan baik oleh Dekranasda maupun pihak terkait seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Selain itu,  galeri Dekranasda sebagai wadah untuk mengapresiasi kerajinan para pengrajin lokal.

“Produk yang ada sudah diakurasi dengan baik. Mulai dari kain tenun, kain batik, hingga berbagai hiasan manik-manik yang bisa dijadikan buah tangan dan diperkenalkan ke seluruh masyarakat yang berkunjung ke galeri,” tuturnya.

Diakui Puji, selain memajang produk kerajinan, galeri tersebut juga dilengkapi dengan fasilitas mini teater yang bisa dipenuhi oleh 30 – 40 orang. Ruangan ini diperuntukkan bagi tamu yang ingin melihat perkembangan Usaha Kecil Menengah di Samarinda dalam bentuk visual.

“OPD lain bisa menggunakan, tak hanya produk UMKM saja, namun juga produk pertanian atau apapun yang berkaitan dengan pusat informasi bisa diolah dalam bentuk video dan bisa dibawa kemari maksimal 40 orang,” paparnya.

Karenanya, Puji meminta kepada Organisasi Perangkat Daerah dan Perbankan untuk dapat mengarahkan para tamu yang datang ke Samarinda untuk berkunjung ke galeri Dekranasda.

“Kami titip kepada OPD dan dunia perbankan untuk bisa diarahkan kesini, kami siap untuk memberikan cinderamata terbaik kepada para tamu. Terima kasih dukungan Pemkot, ini kami persembahkan untuk masyarakat Samarinda,” ucap Puji.