Samarinda—Bank Indonesia (BI) Kaltim menggelar acara bedah buku berjudul Seni Mendidik Anak Dengan Delapan (8) Sentuhan karya Wakil Gubernur Kaltim H. Hadi Mulyadi yang berlangsung di Kantor BI Samarinda lantai 4, Jalan Gajah Mada, Minggu (22/9).

Acara tersebut bekerja Sama dengan Otoritas Jasa Keuangan Kaltim (OJK),

Dalam kesempatan itu Hadi yang menjadi narasumber bedah buku tersebut menerangkan, ada delapan inti nasehat didalam buku yang di buatnya. Kedelapan tips tersebut memang diakui membuat para pendengarnya antusias dan merasa perlu memerlukan buku tersebut.

Diantaranya sentuhan hati, sentuhan lisan, sentuhan fisik, sentuhan media, sentuhan awal, sentuhan potensi, sentuhan lingkungan, dan yang terakhir adalah sentuhan doa. Menurutnya ke delapan Point tersebut sangat berpengaruh bagi pendidikan dini anak oleh orang tua.

Wakil Gubernur H. Hadi Mulyadi menjadi narasumber di acara bedah buku yang berjudul Seni Mendidik Anak Dengan Delapan (8) Sentuhan.

“Kita harus melahirkan bibit bibit anak yang luar biasa, apalagi kedepan daerah kita akan menjadi ibu kota negara, jadi sudah seharusnya dari sekarang orang tua lebih mengedepankan pembinaan melalui 8 point’ tersebut,” ucapnya.

Sementara itu Kepala Bank Indonesia (BI) Kaltim Tutuk SH Cahyono menjelaskan, kegiatan bedah buku tersebut ialah salah satu rangkaian pengukuhan yang di kemas dalam tema Kalibrasi oleh Bank Indonesia Kaltim.

“Ini masuk di salah satu agenda atas pengukuhan saya, kami ambil Tema Kalibrasi, pekan Literasi. Kenapa literasi, karna literasi itu masih sangat rendah. Kita kan sangat sedikit orang, jadi kita ingin membangkitkan daya minat, moment bedah buku, pojok BI, Lomba, perpustakaan, kita buat semuanya ke Literasi, semua untuk membangun Kaltim dan SDM nya akan unggul, apa lagi kita ini sudah IKN, SDM itu penting, dari literasi ini lah kita mulai membangun,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan ini murni program BI Kaltim yang dimana tanpa bagian dari program turunan BI Pusat.

“Sebelumnya kami sudah kroscek, memang Kaltim sangat butuhkan Literasi, kami akan bangun minat baca, bahkan bukan hanya baca, pemahaman soal keuangan juga perlu, dan sosial ekonomi. Kami akan berupaya untuk membentuk SDM dengan kesiapan kompetensi agar bisa lebih siap menjadi Tuan rumah Ibu Kota Negara (IKN) nantinya,” jelas Tutuk

Dirinya Berharap melalui kegiatan ini mampu menjadi tolak ukur perubahan bagi masyarakat di Kaltim. Selain dari literasi yang gencar digerakkan oleh BI Kaltim, Tutuk juga berfokus pada pengenalan Media, yaitu sistem penggunaan uang digital.

“Kita saat ini berada di era Digital, maka masyarakat harus lekas mengerti dan diberi pemahaman,kedepan masyarakat harus mulai belajar menggunakan uang melalui digital, nontunai harus kita gala kan, biar lebih transparan, lebih efisien dan lebih baik,” Tutupnya.

Salah satu undangan, Rahmawati (34) tahun, mengaku sangat kagum atas materi yang sampaikan Hadi Mulyadi. Namun Rahma menyayangkan, karena buku tersebut belum tercetak.

“Ini buku sangat saya tunggu tunggu, semoga pak Hadi segera menerbitkan buku ini. Ibu seperti saya pasti sangat memerlukan buku ini, yah kedepannya untuk membantu mengarahkan kami ibu-ibu ini bagaimana seharusnya mendidik anak dengan rasa, seperti yang disampaikan bapak tadi,” tutur Rahma.

Kegiatan tersebut diikuti 500 peserta terdiri mahasiswa dan organisasi wanita serta komunitas di Kaltim. Turut Hadir Kepala OJK Kaltim Dwi Ariyanto, Ketua Dewan Pendidikan Kaltim Hj Encik Widyani, pimpinan OPD dan instansi vertikal di Kaltim.(Diskominfo/Rey)

Samarinda—Sebanyak 100 Perupa personal dan kolektif turut ramaikan Pameran Besar Seni Rupa (PBSR) yang di helat di Big Mall Samarinda, dalam rangka Pekan Seni Nasional 2019 dan Pekan Kebudayaan, bekerjasama dengan Kemendikbud dan UPTD Taman Budaya Kalimantan Timur.

Mengangkat Tema dari akar budaya lokal masyarakat Banjar di Kalimantan yakni “ Kayuh Baimbai “ yang bermakna bekerja bersama-sama atau bergotong royong.

Di ketahui, Pameran Besar Seni Rupa (PBSR) ini berlangsung dari tanggal 20 hingga 26 september yang mana kegiatan ini adalah merupakan implementasi dari Undang-Undang No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Kegiatan tersebut merupakan Sebuah acara akbar tahunan yang akan mempresentasikan karya-karya perupa-perupa profesional di Kalimantan (Borneo), sebagai sarana mengembangkan potensi lokal tentang daya apresiasi, produksi artistik dan ekspresi kultural yang dipusatkan kegiatannya di Kalimantan Timur.

Dalam Sambutannya, kurator pameran Bambang Asrini Wijanarko mengungkapkan konsep pameran ini berangkat dari kehidupan sosial keseharian masyarakat Banjar yang aktivitasnya banyak dilakukan di sungai, dan merupakan bagian dari laku spiritual selain mendayung bersama sampan itu.

“Ini juga merujuk pada pidato Ir Sukarno pada 1 Juni 1945 pada sidang BPUPKI mengatakan bahwa intisari dari ideologi negara, ialah Pancasila dan Gotong-Royong,” Ujar Bambang, Sabtu(21/9).

Ia juga mengatakan tim kurator yang menyeleksi karya seniman pada kegiatan ini juga melibatkan sejumlah tokoh dan tetua adat Kalimantan, baik secara langsung maupun wawancara. Penyeleksian karya seniman dikategorikan dua kelompok, yakni perupa atau seniman individual dan kolektif.

Bambang menjelaskan, acara tahunan tersebut dibagi dalam tiga zonasi Kalimantan yakni Zona pertama, Kosmopolitanisme, Zona kedua, adalah Ekspresi Seni Islam, Zona Ketiga, adalah Peradaban Tua Kalimantan.

Ia membeberkan untuk Zona pertama Kosmopolitanisme, merupakan sebuah masyarakat yang inklusif dan daerah yang maju, baik pada peradaban masa lalu dan kini. Sebuah konsep sosiologis, di mana orang-orang kosmopolit akan menerima keberbedaan nilai-nilai yang beragam dan membangunnya dalam visi cita-cita bersama demi kemajuan.

“Dengan demikian, seniman-seniman dan pekerja kreatif ditantang menampilkan karya-karya terbaiknya yang sejalan dengan masyarakat maju yang menjunjung nilai-nilai kosmopolit,” Ucap Bambang.

Zona kedua, adalah Ekspresi Seni Islam. Keyakinan dan budaya tentang Islam telah ratusan tahun mendarang-daging di masyarakat Kalimantan.

“Konsep tentang gotong-royong atau Kayuh Baimbai yang terintegrasi dalam budaya Islam sudah wajar diterima. Semenjak awal, sebelum negara modern Indonesia terbentuk, budaya-budaya yang terpuncak dalam seni Islam telah memberi hibriditas corak seni Islam di Kalimantan. Bahkan Kesultanan Kutai Taruma Negara di Kalimantan Timur (Sultan Muhammad Sulaiman pada abad ke-19) telah terkoneksi erat dengan Kesultanan Brunei dan Kesultanan Malaka (Malaysia),” Sambungnya.

Zona Ketiga, adalah Peradaban Tua Kalimantan. Disebutkan juga, Tema Kayuh Baimbai akan mengingatkan, istilah gotong royong telah dikenal bahkan hampir lebih dari seribu tahun.

“Bisa dilihat pada Kerajaan Besar dalam peradaban kuno warga masyarakat di Kalimantan dengan Kerajaan Kutai Martadipura yang berlokasi di Muara Anam, hulu Sungai Mahakam di Kalimantan Timur yang telah eksis sekitar abad ke-4,” Jelasnya.(Diskominfo/Rey)

SAMARINDA — Memperingati World Cleanup Day (WCD) di wilayah Provinsi Kaltim, ratusan masyarakat lakukan aksi bersih-bersih sampah di Tepian Mahakam Samarinda, Sabtu (21/9).

Peringatan peduli lingkungan ini serentak dilaksanakan serentak di 34 Provinsi di Indonesia dan di 150 Negara di seluruh Dunia.

WCD adalah acara tahunan yang mempererat tali persaudaraan antara komunitas, sekolah, perusahaan dan banyak lagi dengan cara berpartisipasi dalam kegiatan gotong royong. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan dan kepekaan terhadap bahaya dari pembuangan sampah sembarangan. Hal tersebut diungkapkan Wakil Gubernur Kaltim, H.Hadi Mulyadi dalam sambutannya yang dibacakan Kabid PPPA Dinas Kependudukan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKP3A) Kaltim Noer Adenany.

Permasalahan sampah bukan hanya menjadi permasalahan Indonesia melainkan diseluruh duni. Untuk mengatasi masalah dan tantangan tersebut salah satunya melalui aksi bersih-bersih se Dunia.

Saat ini, lanjutnya, semakin banyak lahir komunitas yang memiliki kegiatan positif yang juga memberikan feedback positif, salah satunya Trash Hero yang merupakan kemunitas relawan yang peduli terhadap lingkungan, terutama untuk menjaga lingkungan dari sampah plasik.

Sampah plastik merupakan salah satu jenis sampah yang memerlikan waktu yang sangat lama untuk bisa diuraikan,” ujarnya.

Untuk itu diharapkan masyarakat bijak dalam menggunakan plastik dalam kehidupan sehari-hari demi menjaga alam Indonesia tetap bersih.

WCD dihadiri OPD terkait seperti DKP3A Kaltim, BLH Kota Samarinda, TNI, Pelajar, JCI Kaltim, Relawan, serta Organisasi Masyarakat.

Samarinda- Pembukaan pagelaran Pekan Seni Nasioanal 2019, yang dilaksanakan oleh Dinas pendidikan & budaya prov. Kaltim di dukung kementrian pendidikan & kebudayan , bertempat di Taman Budaya jl. Kemakmuran . (20/9)

Untuk pertama kalinya kalimantan timur menggelar Event pekan seni nasional,melibat para anak muda berbagai daerah, menampilkan karya seni berkolaborasi dengan teknologi.

Dalam kesempatannya M Sa’bani menyebutkan kita mengapresiasi anak muda yang mampu menggaplikasikan karya seni ,teknologi,dan fisika menjadi kombinasi kreasi baru yang di ciptakan sebagai bentuk kreatifitas.

“Dalam event ini kita mengharapkan mampu menarik perhatian orang seni , pelajar dan mahasiswa khususnya di samarinda dan sekitarnya , sebagai media pembelajaran bagi generasi muda untuk memanfaatkan teknologi untuk kebaikan kedepannya” ujar Sa’bani

Event ini akan berlangsung dari tanggal 20 hingga 26 september, beberapa seni yang akan ditampilkan seperti festival Teater tradisi nasional,pameran seni rupa,pekan seni media, workshop senirupa, workshop & seminar seni media. Yang akan berlangsung di Big mal samarinda. (Diskominfo/Bgs)

Samarinda – Untuk pertamakalinya sejak Festival Olahraga Rekreasi-Masyarakat Nasional (Fornas) digelar pada tahun 2009 di Jakarta lalu, Kali ini pendaftaran peserta akan dilakukan secara online.

Hal ini diungkapkan Kadispora Kaltim, Syirajudin, saat menjadi narasumber pada Dialog Interaktif di RRI, Jumat (20/9) bersama Ketua Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI) Kaltim, Encik Widyani dan Wakil Sekretaris Umum Formi Kaltim, Bahri.

Pendaftaran via online menurut Kadispora telah disiapkan oleh Dispora Kaltim dan pada Rabu (18/9) kemarin dipresentasikan di hadapan Panitia Nasional (Pannas) di Jakarta dan mendapat apresiasi oleh Pannas yang akan segera bersurat ke seluruh provinsi agar segera melakukan pendaftaran.

“Salah satu inovasi yang dilakukan oleh Dispora Kaltim adalah dengan menyediakan aplikasi agar seluruh Peserta dapat melakukan pendaftaran via online, hal ini pertamakali dilakukan dan terobosan baru untuk penyelenggaraan Fornas,” katanya.

Disampaikannya juga Fornas V yang akan digelar di Samarinda, Kalimantan Timur, 15-18 November mendatang tema yang diangkat adalah ’Pemberdayaan Olahraga Rekreasi Masyarakat Mendukung Kesuksesan Pembangunan SDM Indonesia’.

“Disamping itu, tidak hanya pada kegiatan olahraga rekreasi masyarakat, dalam Fornas V juga akan dilaksanakan pameran dan promosi, gelar budaya dari 34 provinsi, serta hiburan rakyat, bisa dibayangkan bagaimana ramainya Samarinda nanti, sehingga kita harapkan Samarinda juga dapat bersolek diri mempersiapkan diri menyambut tamu-tamu dari seluruh daerah,” tambahnya.

Encik Widyani sendiri menyampaikan sebagai tuan rumah, Kaltim bertekad untuk menjadikan Fornas yang terbaik dan berhasil memperkenalkan olahraga-olahraga yang dilombakan dikenal dan disambut baik dan bisa ada di setiap lini lingkungan masyarakat.

“Fornas merupakan PON-nya olahraga masyarakat, nantinya akan ada 54 induk olahraga di bawah naungan FORMI yang dipertandingkan terdiri dari 37 Indor, 10 olahraga kearifan lokal dan 7 ekhsebisi, yang akan menampilkan keunikan dari olahraga masing-masing. Dimana 3 generasi akan menjadi peserta dari usia muda hingga dewasa,” jelasnya.

Bahri menambahkan untuk Kontingen Kaltim akan berkekuatan 600 atlet dengan target menjadi juara umum atau kontingen dengan peraih medali terbanyak dan tentunya tetap mengedepankan menjadi tuan rumah yang baik untuk semua tamu yang datang.

SAMARINDA— Seiring perubahan waktu dan zaman permainan tradisional perlahan-lahan mulai ditinggalkan karena tergerus zaman. Dengan adanya teknologi yang mulai menjamur di masyarakat saat ini, permainan tradisional mulai tidak dilirik lagi oleh anak-anak.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui Dinas Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKP3A) Kaltim ada 15 jenis permainan tradisional di Kaltim yang mulai hilang.

Hal tersebut diungkapkan Kabid Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Dinas Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKP3A) Kaltim, Noer Adenany ujarnya belum lama ini.

Ia mengatakan adapun 15 jenis permainan tradisional di Kaltim yang mulai hilang, antara lain, Begasing, Paku Lele, Engrang, Main Kelereng, Asinan, Lompat Tali, Asinan Naga, Petak Umpet, Telepon kaleng, Cangklok, Ular Naga, Bekel, Sentokan, Meriam Bambu dan Cina Boy.

“Permainan ini sudah mulai terpinggirkan oleh permainan modern, seperti permainan video game, playstation, game online, berbagai permainan yang tersedia di komputer, laptop, bahkan gawai dan permainan modern lainnya,” bebernya.

Permainan tradisional menurutnya, berperan menstimulasi berbagai aspek perkembangan anak, seperti asek motorik, kognitif, emosi, bahasa, sosial, spiritual, ekologis, dan nilai moral. Selain itu, nilai dan manfaat permainan tradisional diantaranya yaitu memahami konsep sprotivitas, melatih kemampuan fisik anak, belajar mengelola emosi, menggali kreativitas, mengenal kerjasama, meningkatkan rasa percaya diri, dan bersosialisasi lewat permainan.

Dirinya juga mengatakan permainan tradisional yang dimiliki masyarakat Kaltim, merupakan aset kebudayaan bangsa yang seharusnya dijaga dan dilestarikan agar tidak hilang ditelan kemajuan zaman ditengah pesatnya dunia IT di era global.

Saat ini pihaknya tengah menggiatkan permainan tradisional melalui sekolah-sekolah sebagai muatan lokal siswa dan meningkatkan kepedulian OPD terkait, masyarakat dan dunia usaha melalui lomba/event yang menarik untuk mengembangkan potensi dari permainan tradisional.

Samarinda-Gelaran diskusi panel ikatan alumni Unmul, yang membahas kepindahan Ibu Kota Negara Indonesia di Kaltim. Diikuti ratusan mahasiswa berbagai Universitas di Samarinda, bertempat di lingkungan Kantor Gubernur Prov Kaltim, gedung serba guna Olah Bebaya (19/9).

Diskusi tersebut membahas tentang kesiapan masyarakat Kaltim menjadi warga Ibu Kota Negara Indonesia, agar mampu bersaing dengan jutaan pendatang nantinya.

Dalam sambutanya Rektor Unmul H. Masjaya menerangkan tentang asumsi masyarakat yang sering bertanya apakah kaltim mampu dan siap menjadi Ibu Kota Negara Indonesia.

“Keputusan sebagai Ibu Kota Negara Indonesia di Kaltim bukan merupakan keputusan politik. Hal ini adalah demi keseimbangan dan meratanya pembangunan yang ada di Indonesia”, ujar Masjaya.

Kaltim sebagai Ibu Kota nantinya perlu dukungan dari masyarakat dan anak muda.

Dengan tata letak pembangunan Ibu Kota di daerah hutan konservasi, harus tetap menjaga keasrian tumbuhan endemik Kaltim.  Diharapkan ciri khas budaya Kaltim juga harus dikedepankan .

Perguruan Tinggi yang ada di Kaltim juga akan diprioritaskan agar dapat bersaing dengan Perguruan Tinggi di Ibu Kota sebelumnya.

SAMARINDA —– Guna melestarikan kearifan budaya lokal sekaligus menanamkan kecintaan kepada tanah air, Korem 091/Aji Surya Natakesuma (ASN) menggelar lomba tari perang Adat Dayak di Aula Makodim 0901/Samarinda, Kamis (18/9)

Perlombaan tarian tradisional, tari perang Adat Dayak se- Provinsi Kaltim-Kaltara dalam rangka Komunikasi Sosial (Komsos) Kreatif HUT ke-74 TNI Korem 091/ASN.

Danrem 091/ASN Brigjen TNI Widi Prasetijono mengatakan, selain dijadikan wadah untuk menyalurkan bakat seni gerak dalam rangka mencintai dan melestarikan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia. Kegiatan lomba ini juga sebagai media yang tepat dan efektif untuk menampilkan kreativitas kesenian secara kompetitif, sehingga mendorong pengembangan karakter dan jati diri peserta, agar menemukan keseimbangan antara logika, etika dan estetika.

“Dalam kegiatan ini para peserta dapat menampilkan kemampuan dan kreatifitasnya untuk menggali dan menemukan serta mengembangkan bakat seni para peserta sekalian,”ungkapnya

Selain itu, jelasnya lomba tari daerah ini di gelar untuk membuka hati kita sehingga tergugah untuk semakin mencintai kesenian dan budaya bangsa sendiri. Dengan kegiatan ini kita telah ikut andil dalam melestarikan budaya tradisional melalui kreasi-kreasi dan kreatif.

Lanjutnya, tarian daerah dayak merupakan salah satu warisan budaya bangsa Indonesia yang harus dicintai dan lestarikan. Disamping itu tarian daerah juga merupakan harta kekayaan bangsa Indonesia yang tidak ternilai harganya. Untuk itu diperlukan adanya upaya pelestarian budaya seperti yang akan kita laksanakan hari ini yaitu  lomba tari Perang Adat Dayak. Dengan harapan dapat menumbuhkan kecintan dan apresiasi peserta terhadap seni budaya

Kegiatan diikuti 12 tim dari Kodim-Kodim jajaran Korem 091/ASN Kaltim dan Kaltara, Sementara itu yang mendapatkan juara satu dari Kodim 0906/Tenggarong, juara II Kodim 0913/Penajam Paser Utara, juara III Kodim 0904/Tanah Grogot dan Juara IV Kodim 0902/Tanjung Redeb

Sumber Penrem 091/ASN

Samarinda– Agar bayi dan anak bisa tumbuh dan berkembang dengan optimal, orang tua harus memperhatikan asupan gizi yang dikonsumsinya. Air Susu Ibu (ASI) merupakan satu-satunya makanan yang mengandung zat gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan bayi usia 0-6 bulan.

Demikian yang dikatakan Wakil Gubernur Hadi Mulyadi pada acara Workshop Pekan ASI Sedunia 2019 baru-baru ini di Pendopo Lamin Etam Samarinda.

Menurut Hadi, ASI menjadi sumber terpenting asupan gizi bagi bayi. ASI juga dinilai memiliki segudang manfaat baik bagi bayi maupun Ibu. Pasalnya, ada begitu banyak kandungan nutrisi di dalam ASI yang akan menguntungkan tumbuh kembang si kecil.

”Awal masa kehidupan, bisa dikatakan sebagai masa-masa penting di mana pertumbuhan anak berkembang dengan sangat pesat. Masa golden age atau usia emas anak harus dapat asupan gizi yg baik. Proses tumbuh kembang sel otak 50 persen 0 – 5 tahun,” paparnya.

Dua tahun pertama kehidupan anak, atau dikenal dengan 1.000 hari pertama merupakan masa yang sangat kritis bagi tumbuh kembangnya. Pada waktu inilah, keluarga, khususnya orangtua harus yakin bahwa sang bayi mendapatkan asupan gizi yang cukup dan tepat agar ia tidak menderita malnutrisi yang dapat berujung pada stunting.

“ASI eksklusif adalah cara paling murah untuk memastikan kebutuhan nutrisi si kecil terpenuhi. Manfaat ASI eksklusif telah terbukti membantu anak untuk mendapatkan asupan gizi yang mencukupi sehingga meminimalkan risiko terjadi stunting pada anak,” terangnya. (Diskominfo/Cht)

SAMARINDA – Program Kampung Iklim (Proklim) adalah program berlingkup nasional yang dikelola Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam rangka meningkatkan keterlibatan masyarakat dan pemangku kepentingan lain untuk melakukan penguatan kapasitas adaptasi terhadap dampak perubahan iklim dan penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK).

Di lain pihak, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kaltim Riza Indra Riadi mengatakan dalam rangka penguatan upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim telah ditetapkan kampung iklim.  Untuk Kaltim telah ditargetkan 200 desa Proklim dan sampai saat ini sudah  terealisasi 150 desa masuk Proklim yang tersebar di tujuh Kabupaten. “150 Proklim tersebar di tujuh Kabupaten terdiri dari Paser, Berau, Kutai Barat, Kutai Timur, Kutai Kartanegara, Mahakam Ulu dan Penajam Paser Utara,” sebut Riza.

Pelaksanaan Proklim bertujuan meningkatkan keterlibatan kepala desa dan  masyarakat  untuk melakukan penguatan kapasitas adaptasi terhadap dampak perubahan iklim. Tidak hanya pengelolaan hutan mangrove, juga hutan adat. Tidak hanya untuk produksi tetapi juga konservasinya,  “Salah satu momentum penting dalam mendorong pengembangan Proklim di Kaltim adalah dicapainya  kesepakatan pembangunan hijau dalam upaya penurunan emisi gas rumah kaca di seluruh Kabupaten di Kaltim,” ujarnya.

Untuk mensukseskan program ini, Dinas  Kelautan dan Perikanan Kaltim akan terus melaksanakan sosialisasi Proklim dalam upaya keterlibatannya mendukung program penurunan emisi karbon Forest Carbon Partnership Fasilty (FCPF) Carbon Fund 2020-2024. Salah satunya adalah memberikan informasi terkait rencana pelaksanaan program pengurangan emisi berbayar yang dibiayai Bank Dunia untuk desa-desa yang masih memiliki kawasan hutan di seluruh wilayah Kaltim,” papar Riza.

Dalam melaksanakan sosialisasi Dinas Kelautan dan Perikanan Kaltim bekerjasama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Dinas Lingkungan Hidup Kaltim, Dewan Daerah Perubahan Iklim (DDPI) Kaltim termasuk pemerintah kabupaten dan  dinas terkait di masing-masing daerah.