Samarinda – Komunikasi merupakan kunci utama dari sebuah keberhasilan dalam menyampaikan sebuah pesan yang akan disampaikan. Sebagai makhluk sosial, manusia tak bisa terlepas dari keinginan untuk berhubungan dengan manusia lain.

Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Kalimantan Timur, dalam dua tahun terakhir membina Forum Pemuda Disabilitas Kreatif (FPDK) yang memfasilitasi para pemuda disabilitas dengan semua latar belakangnya dan dengan prinsip bahwa keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang untuk mereka berkarya dan mandiri.

Melalui Bidang Pengembangan Pemuda, secara aktif melakukan pembinaan Pemuda Disabilitas yang dirangkul dalam FPDK Kaltim dengan tujuan utama yakni agar pemuda-pemudi disabilitas Kaltim menjadi kreatif dan memiliki wadah untuk menghasilkan karya-karya luar biasa sekaligus sebagai pembuktian kepada non disabilitas bahwa disabilitas juga bisa berkarya. Karena pada prinsipnya Pemuda Disabiltas tidak perlu dikasihani, yang mereka butuhkan kesempatan, akses, fasilitas untuk bergabung berkumpul dalam satu wadah, dimana mereka setiap manusia memiliki kemampuan dan menggali kreatifitasnya.

Namun demikian seringkali kendala muncul dalam berkomunikasi, sehingga pesan yang ingin disampaikan menjadi kurang maksimal.

Mengingat pentingnya hal tersebut, Kadispora Kaltim, Muhammad Syirajudin bersama Kabid Pengembangan Pemuda, Hardiana Muriyani memulai program pelatihan bahasa isyarat yang dilaksanakan 2 kali seminggu atau 8 kali pertemuan dalam sebulan.

“Bahasa isyarat kami pandang perlu apalagi pemuda difabel tunarungu cukup banyak yang menjadi binaan FPDK, sehingga kami berinisiatif menggandeng pembelajar bahasa isyarat dari Ikatan Kebersamaan anak Tuli (IKAT) Samarinda dan Yayasan Difabel ID Balikpapan untuk menjadi Pemateri,”kata Hardiana.

Hardiana menambahkan bahwa bahasa isyarat menjadi bahasa non verbal berupa isyarat tangan ataupun jari agar dapat berkomunikasi baik sesama tunarungu, maupun dengan orang pada umumnya. Tentu harapannya dengan pegawai Dispora khususnya di Bidang pengembangan pemuda menguasai bahasa isyarat tidak akan terjadi distorsi komunikasi.

Seperti pada Kamis (30/1), sejumlah pegawai dengan antusias belajar sejumlah bahasa isyarat dari huruf hingga beberapa kata dasar yang umum digunakan diantaranya Kasi kepemimpinan, kepeloporan dan Kamitraan Pemuda, Syahril, Kasi Organisasi kepemudaan dan kepramukaan, Nunung Suriyani, dan Kasi Infrastruktur dan Kewirausahaan Pemuda, Nova Fachlevie dengan dipandu Agustin dan Inggit dari Ikat Samarinda yang juga penyandang Difabel tuna Rungu serta Huda dari Yayasan Difabel Id Balikpapan.

Muhammad Said, salah satu pegawai Dispora yang mengikuti pelatihan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) mengaku sangat antusias untuk mempelajari dan mengikuti setiap ilmu yang diberikan. Menurutnya hal ini tentunya akan sangat bermanfaat bagi dirinya saat memberikan pelayanan kepada Pemuda Disabilitas yang berkoordinasi ke Dispora Kaltim.

Dari data Survei Penduduk Antar Sensus atau Supas BPS pada 2015 menunjukkan jumlah penyandang disabilitas Indonesia sebanyak 21,5 juta jiwa, sementara dari data Dinas Sosial Kalimantan Timur jumlah penyandang Disabilitas sebanyak 7.500 orang sebagaimana disampaikan pada Seminar Konsultasi Publik tentang Perlindungan dan Pemajuan Hak-Hak Penyandang Disabilitas melalui kerjasama ASEAN yang dilaksankan Kementerian Luar Negeri 21 Juni 2019 lalu di Universitas Mulawarman.

Sementara berdasarkan Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kaltim, jumlah Pemuda penyandang Disabiltas sebanyak 116 orang terdiri dari 30 laki-laki dan 86 perempuan, namun belum semuanya bergabung ke FPDK Kaltim yang juga bertujuan untuk menanamkan kemandirian dan kepercayaan diri, dimana penyandang disabilitas cenderung minder dengan keterbatasannya sehingga akhirnya mengurung diri.

 

Sumber : Dispora Kaltim

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *