Penajam, (22/9)- Penanggungjawab Program Pembangunan Kelurahan dan Perdesaan Mandiri (P2KPM) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kaltim, mengusulkan pembangunan menara pantau di Sungai Tunan untuk memantau aktivitas dan perkembangan di kawasan tersebut.

“Dua hari lalu ada tiga mahasiswa dari Universitas 17 Agustus (Untag) Samarinda yang kami ajak menyusuri Sungai Tunan untuk melihat langsung kondisi Sungai Tunan di Kecamatan Waru, PPU,” ujar Penanggungjawab Program P2KPM Kabupaten PPU Sunarto Sastrowardojo di Penajam, Selasa.

Sunarto yang juga Ahli Madya Tata Ruang ini melanjutkan, ketiga mahasiswanya tersebut diminta mengenali karakteristik Sungai Tunan, mendokumentasikan kekayaan flora dan fauna dalam DAS Tunan, kemudian menentukan lokasi mana yang layak dibangun menara pantau.

Ia mengatakan bahwa fungsi menara pantau ada beberapa hal, di antaranya untuk melihat aktivitas warga di Sungai Tunan dan sekitarnya, baik aktivitas yang positif maupun yang mengarak ke hal negatif.

Jika positif, lanjutnya, tentu hal ini akan menjadi nilai tambah terhadap kelestarian lingkungan dalam Daerah Aliran Sungai (DAS) Tunan yang terdapat berbagai fauna tersebut, antara lain bekantan, lutung, monyet, buaya, dan lainnya.

Sedangkan jika aktivitas negatif yang mengancam pada kelestarian flora dan fauna, tentu pelaku tersebut harus ditindak dengan melibatkan aparatur keamanan setempat.

“Aktivitas negatif itu antara lain menebang tumbuhan maupun mangrove di riparian Sungai Tunan maupun kawasan yang masih masuk dalam DAS Tunan, kemudian menyetrum maupun meracuni ikan di sungai, karena aktivitas ini jelas-jelas merusak layanan ekosistem,” katanya.

Fungsi lain dari menara pantau adalah untuk melihat pergerakan primata, burung, dan binatang lain yang mungkin ada dalam DAS tersebut, sehingga mereka yang bertugas melakukan pengawasan di menara pantau bisa mencatat dalam jurnal harian tentang aktivitas di kawasan itu.

Menara pantau ia anggap penting karena kawasan ini memiliki kekayaan yang luar biasa dan tidak ada di daerah lain, mulai dari aneka tumbuhan hingga satwa liar, dan vegetasi lainnya.

“Jangan sampai kekayaan hayati ini kelak hilang dan kita hanya bisa bercerita tanpa bisa menunjukkan langsung, makanya ekosistem ini harus diawasai dan dijaga supaya dari kepariwisataan dan ekonomi lokal juga berkesinambungan,” ucap Narto. (mg)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *