KUKAR – Peringatan Hari Ulang Tahun Kota Raja Tenggarong yang 238 yang jatuh pada tanggal 28 September. Berbeda dengan tahun sebelumnya, kali ini di peringati secara sederhana tanpa perayaan dan acara yang mewah.

“Peringatan HUT Tenggarong ke 238 tahun ini diperingati secara sederhana tanpa perayaan besar, karena masih adanya COVID -19 ,” jelas Plt. Bupati Kutai Kartanegara , Chairil Anwar usai mengikuti Rapat Paripurna Istimewa di DPRD Kukar, Senin (28/9/2020).

Dirinya mengaku cukup prihatin dengan kondisi ini, namun dirinya mengajak masyarakat untuk tetap memaknai peringatan HUT Tenggarong ini dengan mengingat sejarah perjuangan para pendahulu dan melestarikan adat budaya yang masih terjaga hingga saat ini.

Untuk diketahui pada setiap tanggal 28 September, warga Kabupaten Kutai Kartanegara memperingati hari jadi Kota Raja Tenggarong.  Tenggarong sendiri didirikan tepatnya pada tanggal 28 September 1782 oleh Sultan Kutai Kartanegara ke-15, Aji Muhammad Muslihuddin yang dikenal dengan nama Aji Imbut.

Daerah ini dulunya bernama Tepian Pandan kemudian diubah oleh Sultan Kutai menjadi Tangga Arung yang berarti Rumah Raja,  kemudian pada perkembangannya Tangga Arung lebih dikenal dengan sebutan Tenggarong hingga saat ini.

SAMARINDA— Keluarga memiliki peranan yang sangat penting karena keluarga merupakan awal terbentuknya SDM yang menentukan kualitas individu menjadi generasi penerus dan pemimpin masa depan. Keluarga merupakan lingkup pertama dan utama dalam menanamkan nilai-nilai agama, norma, moral dan pembentukan kepribadian anggotanya.

Hal tersebut diungkapkan Kepala DKP3A Kaltim, Halda Arsyad saat penyelenggaraan Kegiatan Workshop Ketahanan Keluarga dengan tema Penguatan Ketahanan Keluarga Di Era Globalisasi dan Di Masa Pandemi Covid-19, berlangusng secara virtual, Senin (28/9/2020).

Halda mengatakan sementara ketahanan keluarga yaitu sebagai suatu kondisi keluarga yang memiliki keutuhan dan ketangguhan serta memiliki kemampuan fisik, materiil guna hidup mandiri, dapat mengembangkan diri dan keluarganya dalam meningkatkan kebahagiaan lahir dan batin.

Berbicara tentang kesejahteraan masyarakat  atau kebahagiaan lahir dan batin, lanjut Halda, dapat diukur dengan indeks kebahagiaan atau indeks of Happiness sebagai salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur kesejahteraan masyarakat berdasarkan tingkat kebahagiaan masyarakat.

“Menurut BPS, indeks kebahagiaan Indonesia tahun 2017 berada pada angka rata-rata 70,69. Kaltim berada di urutan keempat setelah Provinsi Maluku Utara, Maluku, Sulawesi Utara, Kaltim dan Kaltara. Berarti sebagian besar masyarakat Kaltim Sejahtera (71.57) karena bahagia namun tidak seluruhnya karena masih terdapat masyarakat yang hidupnya miskin (6%),” imbuh Halda.

Halda menambahkan, pada kondisi pandemi Covid-19 yang telah dirasakan hampir 7(tujuh) bulan lamanya, membawa dampak yang luar biasa, terutama sektor ekonomi yang berdampak secara nasional. Demikian juga dampak skala rumah tangga yaitu beban keluarga menjadi lebih besar dan kompleks. Di satu pihak pengeluaran bertambah sedangkan kepala keluarga tidak bekerja lagi atau di PHK, anak sekolah harus belajar di rumah sehingga rumah menjadi pusat aktivitas seluruh anggota keluarga.

Dengan keterbatasan ruang gerak anggota keluarga akan melahirkan kejenuhan yang berujung pada ketidakharmonisan rumah tangga terjadi pertengkaran, KDRT, perselingkuhan, suami yang tidak bekerja untuk mencari nafkah dan lain-lain.

Namun dibalik masalah itu semua pasti ada hikmah bagi keluarga yaitu waktu berkumpul menjadi lebih banyak, lebih kompak, orangtua mempunyai waktu untuk mendidik anak-anaknya, menanamkan nilai-nilai agama, pendidikan, moral dan sebagainya.

“Kami menyadari bahwa betapa besar beban keluarga pada masa pandemi ini sehingga pentingnya memberikan wawasan bagaimana anggota keluarga menjalani peran dan fungsinya masing-masing,”

Sementara, menurut data Simfoni 2020, kasus kekerasan di Kaltim di masa pandemi mengalami penurunan yaitu sebanyak 290 kasus, namun angka perceraian mengalami peningkatan. Menurut data dari Pengadilan Agama Kaltim kasus cerai gugat sebanyak 1058 kasus dan kasus cerai talak 358 kasus Artinya bahwa perempuan lebih banyak yang menuntut cerai, beber Halda.