Samarinda—Ekonomi Kalimantan Timur Triwulan 1 2020 tumbuh positif 1,27%. Meskipun lebih lambat dibandingkan periode sebelumnya namun capaian tersebut relatif lebih baik ditengah merebaknya COVID-19 dibandingkan beberapa provinsi lain yang mengalami kontraksi.

Memasuki Juni 2020, keyakinan masyarakat terhadap ekonomi Kaltim mulai membaik sebagaimana terlihat dari peningkatan indeks keyakinan konsumen dalam Survei Konsumen (SK) Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur.

“Sebagaimana provinsi dengan kontribusi ekonomi terbesar di Pulau Kalimantan dinamika Kalimantan secara langsung akan mempengaruhi perekonomian Kalimantan,” hal tersebut diungkapkan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Prov. Kaltim, Tutuk S.H Cahyono saat menggelar Webinar dengan topik peran investasi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inklusif dan berkelanjutan melalui hirilisasi di Kaltim, Jum’at (10/7/2020)

Memurutnya, ketergantungan terhadap lapangan usaha pertambangan menjadikan kemampuan fiskal Kaltim turut bergerak Senada dengan performa tambang. Padahal, batubara maupun Crude Palm Oil (CPO) Kaltim cukup potensial untuk dikembangkan lebih lanjut dalam rangka mendukung perekonomian yang lebih resilien melalui industri turunannya.

CPO harus terus dikembangkan hingga produk turunannya seperti B30 dan industri makanan. Begitu juga dengan batubara, minyak dan Gas sebagai sebagai sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui harus diperpanjang rantai industrinya melalui hilirisasi. Investasi yang mulai masuk ke Kaltim juga harus diarahkan kepada industri turunan dan green industry.

Lokasi geografi Kalimantan Timur membuka peluang untuk terciptanya green industry seperti pengolahan mineral, gasifikasi batubara ataupun pengolahan biodiesel hingga energi bersih untuk menunjang ibu Kota Negara.

Lanjutnya, ditingkat Nasional Pemerintah memiliki rencana untuk mengembangkan PLTA di seluruh Indonesia sehingga pengembangan green industry memiliki prospek yang cukup baik. Kalimantan Timur memiliki 5 lokasi potensi investasi hydro dengan kapasitas total sebesar 1,1 GW. Disamping fokus untuk menggali potensi investasi, persiapan sumber daya manusia (SDM) juga memegang peranan penting dalam keberlanjutan industri. Untuk itu, perlu persiapan sejak dini kapasitas SDM lokal sehingga nantinya sudah siap untuk menjadi agen penerima transfer ilmu.

Dipilihnya Sepaku dan Samboja menjadi lokasi Ibu Kota Negara baru (IKNB), juga nantinya akan mempengaruhi struktur ekonomi Kaltim secara keseluruhan. Tentunya akan menjadi daya tarik baru untuk investor baik domestik maupun asing. Meskipun seluruh keputusan terkait pembangunan IKNB menjadi wewenang pemerintah pusat tetapi Kalimantan Timur terus mempersiapkan diri menjadi daerah penunjang IKNB. Hal ini dapat dilakukan melalui persiapan infrastruktur fasilitas, konektivitas serta industri Sehingga nantinya pergerakan ekonomi di juga dapat dirasakan di wilayah Lain Kalimantan Timur.

Samarinda—Badan Pusat Statistik Provinsi (BPS) Kaltim mencatat nilai ekspor Provinsi Kalimantan Timur Mei 2020 mencapai US$ 0,95 miliar atau mengalami penurunan sebesar 15,44 persen.

“Nilai ekspor barang migas Mei 2020 mencapai US$ 103,73 juta, turun 23,41 persen dibanding April 2020. Sementara ekspor barang non migas Mei 2020 mencapai US$ 848,58 juta, turun 14,35 persen dibanding April 2020,” jelas Kepala BPS Kaltim, Anggoro Dwithjahyono di Samarinda belum lama ini.

Penurunan ekspor Mei 2020 disebabkan oleh turunnya sebagian besar nilai ekspor barang migas dan non migas, khususnya komoditas hasil tambang.

Menurutnya, persentase penurunan nilai ekspor terbesar terjadi pada golongan barang kayu dan olahannya (44) sebesar 96,69 persen, sedangkan persentase kenaikan nilai ekspor terbesar terjadi pada golongan barang pupuk dan bahan kimia anorganik (31&28) sebesar 5,87 persen. Penurunan nilai ekspor Mei 2020 sangat dipengaruhi oleh turunnya nilai ekspor golongan barang bahan bakar mineral nonmigas (27) yang mengalami penurunan sebesar 12,65 persen dibanding April 2020.

Dirinya melanjutkan Negara tujuan utama ekspor migas Provinsi Kalimantan Timur pada Mei 2020 adalah Negara Japan, Tiongkok dan Malaysia masing-masing mencapai US$ 63,46 juta, US$ 38,33 juta, dan US$1,95 juta. Peranan ketiga negara tersebut dalam ekspor migas Provinsi Kalimantan Timur mencapai 100,00 persen terhadap total ekspor pada Mei 2020.

Persentase penurunan terbesar ekspor migas Mei 2020 jika dibandingkan dengan April 2020 terjadi ke Negara Tiongkok sebesar 20,04 persen, yaitu dari US$ 47,93 juta menjadi US$ 38,33 juta.

Sedangkan Negara tujuan utama ekspor non migas Provinsi Kalimantan Timur pada Mei 2020 adalah Negara Tiongkok, India dan Malaysia, masing-masing mencapai US$ 234,85 juta, US$ 92,86 juta dan US$ 91,70 juta. Peranan ketiga negara tersebut dalam ekspor non migas Provinsi Kalimantan Timur mencapai 49,42 persen terhadap total ekspor pada bulan Mei 2020.

Penurunan nilai ekspor non migas Provinsi Kalimantan Timur pada Mei 2020 dipengaruhi oleh turunnya sebagian bessar nilai ekspor ke beberapa negara. Persentase penurunan terbesar ekspor non migas Mei 2020 jika dibandingkan dengan April 2020 terjadi ke Negara Pakistan sebesar 56,22 persen, yaitu dari US$ 43,56 juta menjadi US$ 19,07 juta. Sedangkan persentase kenaikan terbesar terjadi ke Negara South Korea sebesar 67,77 persen, yaitu dari US$ 41,34 juta menjadi US$ 69,36 juta.

Samarinda – Industri Kecil Menengah (IKM) yang terdampak Covid-19 di Kota Samarinda mendapatkan bantuan dari Pemerintah Kota Samarinda melalui Dinas Perindustrian.

Bantuan berupa sarana dan prasarana untuk para IKM ini diberikan kepada 295 orang yang dibagi menjadi dua tahap penyerahan, berasal dari dana penanggulangan Covid-19 yang bersumber dari APBD Samarinda.

“Bantuan ini baru tahap pertama. Kita akan berikan lagi untuk tahap kedua. Besar harapannya bantuan yang diberikan ini dapat membantu para IKM agar dapat terus berproduksi di masa pandemi Covid-19 dengan bantuan bahan baku produksi hingga peralatan usaha,” ujar Wali Kota Samarinda, Syaharie Jaang di Aula Dinas Perindustrian Samarinda, Selasa (7/7/2020).

Tahap pertama ini diberikan untuk pengrajin sarung samarinda dan pengrajin manik berupa prasarana produksi, yakni bahan baku usaha masing-masing berupa benang sutera dan batu manik-manik, yang diberikan secara kolektif kepada masing-masing Kelompok Usaha Bersama atau KUBE diwakili masing-masing ketuanya.

“Saya juga berharap bantuan ini dapat membuat para IKM mampu terus berproduksi dan juga meningkatkan produksinya, sehingga ujung-ujungnya dapat meningkatkan perekonomian kota Samarinda,” ujarnya.

Syaharie Jaang didampingi Kepala Dinas Perindustrian Samarinda, Muhammad Faisal.

Untuk bahan benang sutera diberikan kepada delapan KUBE dengan total 86 orang pengrajin dan untuk bahan manik diberikan lima warna diberikan satu paket kepada 13 KUBE yang terdiri dari 94 orang pengrajin.

Muhammad Faisal menambahkan untuk pengrajin kayu pembuat kapal nelayan tradisional diberikan untuk 30 orang dan untuk IKM makanan ringan jenis amplang sebanyak 20 orang,

“Untuk pengrajin kapal nelayan kami berikan bantuan peralatan masing-masing berupa mesin ketam untuk 30 orang sedangkan untuk IKM amplang berupa wajan dan kompor gas tungku,” ucap Faisal.

Dijelaskan Faisal, untuk bantuan sosial tahap kedua nanti yang direncanakan pekan depan akan diberikan kepada IKM mebeler, bengkel las, ukir kayu dan makanan ringan dengan total sebanyak 65 orang,

“Data IKM-nya sudah pula kami identifikasi, verifikasi termasuk bantuan sarana atau peralatan usaha nya sudah pula kami pesankan, Insya Allah akan datang tepat waktu sesuai waktu yang direncanakan,” ujar Faisal.

 

Samarinda— Hingga Mei 2020, jumlah penumpang angkutan udara domestik yang diberangkatkan sebanyak 6,89 ribu orang atau turun 83,01 persen dibanding bulan sebelumnya.

Penurunan jumlah penumpang terjadi di semua bandara yang diamati, yaitu Bandara Melalan – Kutai Barat 100,00 persen, Datah Dawai – Kutai Barat 100,00 persen, Badak Bontang – Bontang 100,00 persen, APT Pranoto – Samarinda 97,62 persen, SAMS Sepinggan – Balikpapan 76,83 persen, dan Kalimarau – Berau 71,45 persen. Hal tersebut dilaporkan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, Anggoro Dwithjahyono saat rilis bulanan belum lama ini .

Kemudian jumlah penumpang domestik terbesar melalui SAMS Sepinggan – Balikpapan, yaitu mencapai 6,14 ribu orang atau 89,07 persen dari total penumpang domestik, diikuti Kalimarau – Berau 0,46 ribu orang atau 6,68 persen.

Sementara itu, total jumlah penumpang angkutan udara domestik Januari – Mei 2020 sebanyak 691,50 ribu orang atau turun 38,18 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebanyak 1.118,51 ribu orang. Jumlah Penumpang terbesar tercatat di SAMS Sepinggan – Balikpapan mencapai 480,54 ribu orang atau 69,49 persen dari keseluruhan penumpang domestik, diikuti APT Pranoto – Samarinda 151,58 ribu orang atau 21,92 persen.

Untuk jumlah penumpang angkutan udara ke luar negeri/internasional pada Mei 2020 sebanyak 1 orang dibandingkan April 2020.

“Bandara yang melakukan penerbangan ke luar negeri/internasional di Provinsi Kalimantan Timur hanya bandara SAMS Sepinggan – Balikpapan,” sebutnya

Selama Januari – Mei 2020 jumlah penumpang angkutan udara ke luar Negeri, baik menggunakan penerbangan nasional maupun asing mencapai 4,67 ribu orang atau turun 49,36 persen dibandingkan jumlah penumpang pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Selanjutnya Jumlah penumpang angkutan laut dalam negeri pada Mei 2020 tercatat 0,07 ribu orang atau turun 97,92 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan jumlah penumpang terjadi di seluruh Pelabuhan yang diamati yaitu Pelabuhan Semayang 100,00 persen, Samarinda 100,00 persen, dan Lhok Tuan dan Tanjung Laut 56,60 persen.

Jika dilihat selama Januari – Mei 2020, jumlah penumpang angkutan laut dalam negeri mencapai 71,71 ribu orang atau turun 50,70 persen dibanding periode yang sama tahun 2019. Penurunan Jumlah penumpang terjadi diseluruh pelabuhan yang diamati yaitu pelabuhan Semayang 58,50 persen, Samarinda 44,65 persen dan Lhok Tuan dan Tanjung Laut 18,61 persen.

Samarinda– Pada bulan Mei 2020, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di
Provinsi Kalimantan Timur pada bulan Mei 2020 mencapai 26,31 persen, angka ini mengalami penurunan sebesar 0.01 poin dibanding TPK Bulan April 2020, yaitu dari 26,323 persen menjadi 26,31 persen

Hal tersebut diungkapkan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, Anggoro Dwithjahyono saat rilis bulanan melalui live streaming Youtube, dua hari yang lalu di Samarinda.

Menurut Anggoro, Secara umum rata-rata lama menginap tamu pada hotel berbintang di Kalimantan Timur selama Bulan Mei 2020 mengalami penurunan sebesar 0,21 hari dari rata-rata lama tamu menginap Bulan April 2020, sementara rata-rata lama menginap tamu hotel berbintang pada Bulan Mei tercatat memcapai 1,87 hari.

“Rata-rata lama menginap tamu mancanegara mencapai 1,35 hari sedangkan rata-rata lama menginap tamu nusantara mencapai 1,88 hari,”jelasnya

Jika dilihat dari jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke wilayah Kalimantan Timur pada bulan Mei 2020 tercatat sebanyak 23 kunjungan yang berarti mengalami penurunan sebanyak 10 kunjungan jika dibanding bulan April 2020 yang tercatat sebanyak 13 kunjungan.

Sementara itu jumlah wisman pada Mei 2020 jika dibandingkan dengan Mei 2019 mengalami
penurunan 185 kunjungan.

Menurut asal regional negara wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Kalimantan Timur pada bulan Mei 2020 didominasi oleh wisatawan asal ASEAN. Peranan regional ASEAN tersebut mencapai 91,30 persen terhadap total kunjungan wisman pada bulan Mei 2020.

 

 

Samarinda—-Dalam rilisnya Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, menyebutkan Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Kalimantan Timur Juni 2020 sebesar 107,02 atau turun 1,29 persen dibanding NTP pada bulan Mei 2020.

Penurunan NTP disebabkan oleh turunnya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) dan meningkatnya Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib). Hal tersebut diungkapkan Kepala BPS Kaltim, Anggoro Dwithjahyono saat rilis bulanan melalui live streaming Youtube, Rabu (1/7/2020).

Menurut Anggoro NTP per subsektor Provinsi Kalimantan Timur Juni 2020 yaitu Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) sebesar 101,61; Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) sebesar 106,03; Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) sebesar 113,24; Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPT) sebesar 102,65; dan Nilai Tukar Nelayan dan Pembudidaya Ikan (NTNP) sebesar 102,46.

“Hanya terdapat satu subsektor yang mengalami peningkatan NTP, yaitu subsektor peternakan 1,94 persen,”terangnya

Sementara itu, empat subsektor lainnya mengalami penurunan, yaitu subsektor tanaman pangan (-1,06 persen), subsektor hortikultura (-0,70 persen), subsektor tanaman perkebunan rakyat (-2,61 persen) dan subsektor perikanan (-1,09 persen).

Anggoro menjelasakan NTP yang diperoleh dari perbandingan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) terhadap Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib), merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan.

NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani.

Lanjutnya, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Provinsi Kalimantan Timur Juni 2020 sebesar 108,80 atau turun 0,86 persen dibanding NTUP pada bulan Mei 2020 yang tercatat sebesar 109,74.

Satu-satunya subsektor yang mengalami peningkatan NTUP, yaitu subsektor peternakan.per (2,32 persen. Empat subsektor pertanian lainnya mengalami penurunan, yaitu subsektor tanaman pangan (-0,49 persen), subsektor hortikultura (-0,27 persen), subsektor tanaman perkebunan rakyat (-2,20 persen) dan subsektor perikanan (-0,72 persen).

Dari 34 provinsi yang dihitung NTP-nya, terdapat 13 provinsi yang mengalami peningkatan NTP dan sisanya mengalami penurunan. Peningkatan NTP paling tinggi terjadi di Provinsi Jambi dengan persentase peningkatan sebesar 2,63 persen sedangkan penurunan paling tinggi terjadi di Provinsi Kalimantan Barat dengan persentase penurunan sebesar 2,33 persen.

Dari lima provinsi di pulau Kalimantan, hanya Kalimantan Selatan yang mengalami peningkatan dan sisanya mengalami penurunan. Penurunan tertinggi terjadi di Kalimantan Barat sedangkan penurunan terendah terjadi di Kalimantan Utara. Sementara itu, NTP mengalami peningkatan 0,13 persen di tingkat nasional.

Samarinda—Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) Prov Kaltim terus mensosialisasikan program digital banking yang memiliki tujuan kemudahan bertransaksi di masa new normal. Sehingga perbankan tetap optimal melayani kebutuhan masyarakat. Seperti diketahui selama masa pandemi, dunia semakin mengarah ke perbankan digital karena pemberlakuan pembatasan fisik yang berguna untuk menekan penyebaran Covid-19.

Menurut Kepala BMPD Provinsi Kaltim Tutuk S. H. Cahyono, penting untuk memberikan pelayanan yang maksimal kepada masyarakat dalam menghadapi era new normal dengan protokol kesehatan yang baik. Layanan melalui teknologi perbankan atau layanan digital akan lebih efektif karena transaksi dapat dilakukan tanpa dibatasi ruang dan waktu sehingga kesehatan dapat terjaga, bisnis terus berjalan dengan fasilitas dan kemudahan yang ditawarkan.

“Tujuannya memasyarakatkan transaksi online sebagai wujud ikhtiar kita agar terhindar di Covid-19. Pake masker, rajin cuci tangan, jaga jarak. Beradaptasi dengan new normal dan nikmati kemudahan transaksi online ,” jelas Tutuk.

Lebih lanjut Tutuk menerangkan, masa new normal telah memberikan pengaruh pada perilaku masyarakat dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari. Seperti halnya kegiatan ekonomi yang konvensional kini telah beralih ke pola kegiatan berbasis digital. Masyarakat pun akhirnya terbiasa dengan segala jenis transaksi online.

“Perbankan daerah siap untuk memfasilitasi masyarakat dalam penggunaan layanan online, baik berupa internet dan mobile banking, uang elektronik, dan Quick Response Indonesia Standard (QRIS),” imbuhnya.

dok ilustrasi hestanto

Samarinda—-Provinsi Kalimantan Timur pada bulan Juni 2020 mengalami inflasi sebesar 0,22 persen, atau terjadi perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 103,74 pada bulan Mei 2020 menjadi 103,97 pada bulan Juni 2020. Dengan Inflasi tahun kalender pada bulan Juni 2020 sebesar 0,85 persen dan Inflasi tahun ke tahun sebesar 1,52 persen.

Demikian diungkapkan Kepala BPS Kaltim, Anggoro Dwithjahyono saat rilis bulanan melalui live streaming youtube, Rabu (1/7/2020).

Dirinya menjelaskan Inflasi terjadi karena adanya peningkatan harga yang ditunjukkan oleh naiknya beberapa indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,28 persen; diikuti kelompok transportasi sebesar 0,35 persen; kelompok rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 0,16 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,15 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,06 persen; dan kelompok pendidikan cenderung stabil sebesar 0,00 persen.

Berikutnya, kelompok yang mengalami penurunan indeks yaitu kelompok pakaian dan alas kaki sebesar -2,75 persen; kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar -0,17 persen; kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar -0,15 persen; kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar -0,06 persen; dan kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar -0,02 persen.

Inflasi terjadi karena adanya peningkatan harga yang ditunjukkan oleh naiknya beberapa indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,28 persen; diikuti kelompok transportasi sebesar 0,35 persen; kelompok rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 0,16 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,15 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,06 persen; dan kelompok pendidikan cenderung stabil sebesar 0,00 persen.

Sedangkan Kelompok yang mengalami penurunan indeks yaitu kelompok pakaian dan alas kaki sebesar -2,75 persen; kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar -0,17 persen; kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar -0,15 persen; kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar -0,06 persen; dan kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar -0,02 persen.

Dirinci menurut kota, pada bulan Juni 2020, Kota Samarinda mengalami inflasi sebesar 0,17 persen dengan IHK 104,04. Sementara Kota Balikpapan mengalami inflasi 0,28 persen dengan IHK 103,88. Pada bulan Juni 2020 Inflasi tahun kalender Kota Samarinda sebesar 0,62 persen dan inflasi tahun ke tahun sebesar 1,80 persen. Sedangkan Inflasi tahun kalender Kota Balikpapan sebesar 1,16 persen dan inflasi tahun ke tahun sebesar 1,16 persen.

Selain itu, BPS juga telah melakukan pemantauan IHK Nasional di 90 kota. Dari 90 kota tercatat 76 kota mengalami inflasi dan 14 kota lainnya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kendari (Sulawesi Tenggara) sebesar 1,33 persen dan terendah terjadi di Makassar (Sulawesi Selatan) sebesar 0,01 persen. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Ternate (Maluku Utara) sebesar -0,34 persen dan terendah di Padang Sidempuan sebesar -0,02 persen.

Tambahnya, jika perbandingan inflansi antar kota Pulau Kalimantan pada Bulan Juni 2020 dari 12 kota IHK di wilayah Pulau Kalimantan semuanya mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi Tarakan (Kalimantan Utara) sebesar 0,99 persen dengan IHK 114,10 dan inflasi terendah terjadi di Kotabaru (Kalimantan Selatan) sebesar 0,12 persen dengan IHK 106,69.

Samarinda— Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi menyampaikan apresiasi atas peran Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) membangun daerah serta mendorong pertumbuhan ekonomi dan peningkatan pendapatan daerah.

“Kami senang GAPKI berperan. Semoga GAPKI terus membangun Kaltim dan membangun Indonesia. Jangan lupa bayar pajak. Jangan lupa salurkan CSR nya. Jangan lupa membangun lingkungannya,” pesan Hadi saat Ngobrol Bareng (GAPKI Kaltim secara virtual, Rabu (24/06/2020).

Terkait CSR (corporate social responsibility) dan pembangunan lingkungan, Wagub Hadi kembali menyampaikan penghargaannya atas kepedulian perusahaan sawit. Khususnya menyalurkan akses power (pembangkit listrik perusahaan) bertenaga biodiesel (limbah cair kelapa sawit/POME) dialirkan ke masyarakat sekitar perusahaan.

“Saya rasa ini apresiasi tak terhingga bagi beberapa perusahaan, seperti Rea Kaltim dan PT Telen telah mengalirkan tenaga listrik perusahaannya bagi masyarakat,” ungkap Hadi.

Wagub sangat berharap apa yang dilakukan perusahaan ini diikuti perusahaan kelapa sawit maupun perusahaan lainnya di Kaltim, untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat sekitar perusahaan.

 

Kutai Timur – Tingginya capaian produksi hasil pertanian khususnya padi sawah, tidak hanya bertumpu pada keunggulan varietas bibit padi dan pla pemupukan, tetapi termasuk bagaimana sistem pengolahan tanah dan pengairannya. Namun bagaimana jika salah satu dari faktor penunjang tersebut tidak terpenuhi, tentu hasil capaian produksi padi tidak akan bisa maksimal didapatkan.

Hal inilah yang terjadi di Desa Bumi Rapak Kecamatan Kaubun, Kabupaten Kutai Timur, areal sawah seluas lebih kurang 200 hektar tidak bisa dikelola secara maksimal akibat longsornya dinding waduk yang menjadi satu-satunya sumber irigasi pengairan lahan persawahan di desa tersebut.

Menurut Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kutai Timur, Sugiono ambrolnya salah satu dinding waduk di Desa Bumi Rapak Kecamatan Kaubun tersebut, sudah terjadi sejak 4 (empat) tahun lalu, namun hingga kini memang belum ada perbaikan. Hal ini karena tanggung jawabnya masih berada dibawah kewenangan dari Balai Wilayah Sungai Kalimantan III. Kondisi ini juga menyebabkan Distan Kutim maupun Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kutim tidak bisa melakukan perbaikan pada waduk tersebut.

“Memang ada proyek pembangunan waduk di Desa Bumi Rapak, namun sudah empat tahun ini waduk tersebut tidak bisa difungsikan. Permasalahannya adalah longsornya salah satu sisi kiri dinding saluran primer waduk tersebut. Sudah kita tinjau, namun memang kita maupun Dinas PU Kutim tidak bisa melakukan perbaikan, karena kewenangannya masih merupakan tanggung jawab Balai Wilayah Sungai Kalimantan II yang berada dibawah Kementerian PUPR,” ujar Sugiono.

Lanjutnya, akibat tidak berfungsinya waduk Kaubun tersebut, ada lebih kurang 200 hektar persawahan yang saat ini tidak bisa dikelola secara maksimal. Para petani hanya mengharapkan tadah hujan, saat melakukan aktivitas bercocok tanam. Jika memang musim kemarau, maka tanaman padi akan kering dan gagal panen.

Beruntungnya, para petani pemilik ratusan hektar sawah di desa tersebut tersebut hingga saat ini tidak tertarik untuk menjual lahan persawahan mereka atau beralih bercocok tanam dengan menanam sawit.

Menurutnya, sawah tetap beroperasi, namun hanya untung-untungan saja mengharapkan tadah hujan. Jika musim hujan, maka hasil padi lumayan bagus. Namun jika kemarau, maka gagal panen.

“Syukurnya, mereka pemilik sawah tidak mengalihfungsikan sawah mereka untuk menanam sawit. Pasalnya sudah bertahun-tahun tidak ada perhatian. Jika memang bisa, coba dialihkan saja kewenangannya kepada kita disini untuk memperbaiki. Sayang kan, ratusan hektar sawah tidak bisa dimaksimalkan,” ucapnya.

Lebih jauh dikatakan Sugiono, saat ini pemerintah Kutim tengah giat-giatnya untuk memaksimalkan program swasembada beras. Namun jika program ini tidak didukung secara maksimal, maka tidak akan bisa tercapai. Sedangkan pada lahan sawah Kecamatan Kaubun tersebut, memiliki nilai potensi tonase pagi yang bisa dihasilkan. Bahkan nilainya mencapai ribuan ton padi sawah.

“Jika rata-rata lima ton saja perhektarnya, jika 200 hektar maka jumlahnya sudah sebanyak 1.000 ton per 200 hektar untuk satu musim tanam. Jika dalam setahun ada dua kali musim tanam, pastinya hilang 2.000 ton padi sawah. Jika 2.000 ton dikalikan Rp 5.000 saja, maka sudah berapa puluh juta rupiah yang hilang. Sayang jika tidak cepat ditangani waduknya,” ujarnya.