SAMARINDA— Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Timur mengumumkan jumlah penumpang angkutan laut dalam negeri pada bulan September 2020 tercatat 14,98 ribu orang atau naik 12,88 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Peningkatan jumlah penumpang terjadi di Pelabuhan Samarinda 29,65 persen. Sedangkan penurunan terjadi di Pelabuhan Lho Tuan dan Tanjung Laut 20,89 persen dan Semayang 1,45 persen. Hal tersebut diutarakan Kepala BPS Kaltim,  Anggoro Dwithjahyono belum lama ini di Samarinda.

Memurutnya, selama Januari – September 2020, jumlah penumpang angkutan laut dalam negeri mencapai 123,03 ribu orang atau turun 60,84 persen dibanding periode yang sama tahun 2019.

Penurunan jumlah penumpang terjadi diseluruh pelabuhan yang diamati yaitu pelabuhan Lhok Tuan dan Tanjung Laut 66,84 persen, Semayang 68,70 persen dan Samarinda 36,92 persen.

Sementara jumlah penumpang angkutan udara domestik pada bulan September 2020 sebanyak 70,82 ribu orang atau turun 13,08 persen dibanding bulan sebelumnya.

“Penurunan jumlah penumpang terjadi di Bandara Kalimarau – Berau 51,98 persen, APT Pranoto – Samarinda 22,11 persen, Datah Dawai –Mahakam Hulu 13,73 persen dan SAMS Sepinggan – Balikpapan 5,53 persen,”sebutnya.

Menurut Anggoro jumlah penumpang domestik terbesar melalui SAMS Sepinggan – Balikpapan yaitu mencapai 59,63 ribu orang atau 75,66 persen dari total penumpang domestik, diikuti APT Pranoto – Samarinda 15,25 ribu orang atau 19,35 persen.

Sementara itu, jumlah penumpang angkutan udara domestik bulan Januari – bulan September 2020 sebanyak 982,37 ribu orang atau turun 52,44 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebanyak 2.065,53 ribu orang.

Penumpang terbesar tercatat di SAMS Sepinggan Balikpapan mencapai 688,23 ribu orang atau 70,06 persen dari keseluruhan penumpang domestik, diikuti APT Pranoto – Samarinda 210,62 ribu orang atau 21,44 persen.

Lanjutnya penumpang angkutan udara ke luar negeri/internasional pada bulan September 2020 masih menunjukkan angka nol dari bulan April 2020. Bandara yang melakukan penerbangan ke luar negeri/internasional di Provinsi Kalimantan Timur hanya bandara SAMS Sepinggan – Balikpapan.

Selama bulan Januari – bulan September 2020 jumlah penumpang angkutan udara ke luar Negeri, baik menggunakan penerbangan nasional maupun asing mencapai 4,67 ribu orang atau turun 80,45 persen dibandingkan jumlah penumpang pada periode yang sama tahun sebelumnya, terang Anggoro Dwithjahyono.

SAMARINDA—- Wakil Gubernur Kaltim, H Hadi Mulyadi menjadi keynote speaker sekaligus membuka Virtual Banking Expo Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) Kaltim, dari VIP Room Bandara APT Pranoto, Senin (23/11/2020).

Wagub Hadi Mulyadi mengapresiasi kegiatan yang diprakarsai Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kalimantan Timur dan diikuti jajaran perbankan, baik bank BUMN/BUMD dan swasta.

“Terima kasih kepada Bank Indonesia khususnya BMPD Kaltim yang mengadakan Virtual Banking Expo 2020 yang sangat luar biasa. Dimana melibatkan seluruh masyarakat untuk aktif mengikuti acara tersebut. Sesungguhnya ada hal yang penting dalam kegiatan ini, bukan sekedar lomba-lomba, bukan sekedar expo, tetapi ada semangat untuk terus kreatif dan inovatif di tengah pandemi Covid-19 dan itu yang ingin kita bangun,” urai Hadi Mulyadi.

Hadi menjelaskan esensi Virtual Banking Expo ini kepada masyarakat agar secara bertahap melakukan aktivitas secara non tunai. Banyak transaksi non tunai dari perbankan yang prosesnya harus terus digiatkan sehingga efektif dan efisien, serta membantu pemerintah memutus rantai penularan Covid-19.

“Ini kemajuan sangat luar biasa oleh perbankan melalui gerakan nasional non tunai. Bahwa kita harus tetap bekerja keras walaupun pandemi ini melanda di 217 negara, tetapi kita di Kaltim masih bisa survive, perekonomian kita masih bisa berjalan dengan baik dan harus terus bekerja keras,” jelas Hadi.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaltim, Tutuk SH Cahyono mengungkapkan Virtual Banking Expo 2020 merupakan wadah silaturahmi dan berkumpulnya bank mengkomunikasikan ide dan gagasan guna peningkatan kualitas perbankan di Kaltim berpedoman pada protokol kesehatan.

“Walaupun terpisah secara fisik namun mampu melahirkan semangat kebersamaan dan kekeluargaan diantara perbankan nasional dan daerah,” ungkapnya.

Virtual Banking berlangsung 23 – 30 November dirangkai talkshow The Best Bank, workshop, stand up comedy, edukasi perbankan dan produk unggulan perbankan.

KUTAI KARTANEGARA— Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Timur berkolaborasi dengan Dinas-Dinas terkait dan BPD Kaltimtara menyelenggarakan pelatihan dan sosialisasi kepada klaster petani cabai merah dan bawang merah binaan BI di wilayah Kutai Kartanegara (Kukar)selama tiga hari dimulai 17-19 November 2020.

Pelaksanaan kegiatan dilakukan di tiga tempat berbeda menyesuaikan lokasi klaster petani binaan BI di wilayah Kukar. Adapun tempatnya yaitu di Kebun Kelompok Tani PPS Bukit Biru, Balai Kelurahan Loa Tebu Tenggarong dan Pondok Pertemuan Kelompok Tani Dewi Sri Bhuana Jaya Desa Bhuana Jaya Tenggarong.

Menurut Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltim, Tutuk S.H. Cahyono, komoditas bahan pangan terutama yang berjenis volatile food seperti beras, cabai merah dan bawang merah sering kali menjadi isu strategis dalam bidang ketahanan pangan.

Pergerakan harga yang bergejolak, kelangkaan persediaan, gagal panen dan tingginya ketergantungan terhadap impor merupakan beberapa isu yang selalu muncul, terutama menjelang musim panen seperti saat ini. Di wilayah Kalimantan Timur (Kaltim), khususnya di Kota Samarinda, komoditas seperti cabai merah dan bawang merah selalu menjadi faktor pendorong inflasi yang berasal dari bahan pangan.

Bahkan berdasarkan data selama sepuluh tahun terakhir, kedua komoditas tersebut persisten masuk ke dalam 5 (lima) besar pendorong inflasi di Kaltim. Termasuk dalam rangkaian kegiatan adalah penjelasan kepada petani mengenai organisme pengganggu tanaman (OPT) berikut cara-cara pengendaliannya, teknik melakukan perawatan tanaman menjelang dan selama musim penghujan yang disampaikan oleh tim teknis dinas terkait.

“Dalam pelaksanaannya, BI memiliki banyak instrumen untuk mendukung tujuan utama tersebut, salah satunya melalui program pemberdayaan UMKM,”ungkapnya dalam rilisnya.

Lebih lanjut, program pemberdayaan UMKM, BI melakukannya dengan membentuk klaster-klaster binaan maupun mitra dari berbagai sektor, terutama sektor pertanian sebagai upaya mendukung ketahanan dan kestabilan harga pangan.

Diharapkan setelah mengikuti pelatihan ini, para petani dalam klaster binaan BI dapat mengoptimalkan hasil panennya pada kesempatan panen terdekat dengan meminimalkan kerusakan tanaman akibat OPT maupun kerusakan akibat kesalahan perawatan di tengah musim penghujan.

Selain itu, sebagai bagian dari upaya literasi dan perluasan inklusi keuangan, diharapkan para petani dalam klaster binaan dapat mengenal perbankan dan produk perbankan dengan lebih baik yang akan memudahkan akses pembiayaan perbankan kepada petani.

Terakhir dan paling utama, optimasi hasil panen diharapkan berkontribusi dalam upaya pengendalian harga pangan utamanya cabai merah dan bawang merah di wilayah Kaltim, terutama di Kota Samarinda dan sekitarnya.

(dok: BI Kaltim)

SAMARINDA— Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Provinsi Kalimantan Timur pada bulan September 2020 mencapai 51,19 persen, angka ini mengalami kenaikan sebesar 12,09 poin dibanding TPK Agustus 2020.

“Jika dibandingkan dengan bulan September 2019, terjadi penurunan TPK sebesar 6,84 poin, yaitu dari 58,03 persen di bulan September 2019 menjadi 51,19 persen, sedangkan di bulan September 2020,” ungkap Kepala Badan Pusat Statistik Kaltim, Anggoro Dwithjahyono, di Samarinda.

Anggoro menerangkan rata-rata lama menginap tamu di hotel berbintang pada bulan September 2020 mencapai 1,73 hari. Rata-rata lama menginap tamu mancanegara mencapai 2,32 hari sedangkan rata-rata lama menginap tamu nusantara mencapai 1,73 hari.

Selanjutnya, dilihat menurut klasifikasinya, pada bulan September 2020 hotel berbintang 4 (empat) mengalami raihan TPK tertinggi yaitu mencapai 55,66 persen, sedangkan TPK terendah terjadi pada hotel berbintang 1 (satu) yaitu hanya 0 persen, sementara hotel berbintang 2 (dua), berbintang 3 (tiga) dan berbintang 5 (lima) mencatat TPK masing-masing sebesar 51,96 persen, 50,84 persen dan 39,01 persen.

Sementara TPK hotel berbintang 5 (lima) pada bulan September 2020 mengalami kenaikan sebesar 12,82 poin bila dibandingkan bulan Agustus 2020, yaitu dari 26,19 persen menjadi 39,01 persen.

Sedangkan data jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke wilayah Kalimantan Timur pada bulan September 2020 tercatat sebanyak sembilan kunjungan yang berarti mengalami penurunan sebanyak empat kunjungan jika dibanding bulan Agustus 2020 yang tercatat sebanyak 13 kunjungan. Sementara itu jumlah wisman pada bulan September 2020 jika dibandingkan dengan bulan September 2019 mengalami penurunan 406 kunjungan.

Kemudian menurut asal regional negara wisman yang berkunjung ke Kalimantan Timur pada bulan September 2020 didominasi oleh wisatawan asal ASEAN.

Peranan regional ASEAN tersebut mencapai 100 persen terhadap total kunjungan wisman pada bulan September 2020.

SAMARINDA—BPD Kaltimtara Unit Usaha Syariah kini terus berupaya memperkuat jaringan kantor guna memberikan layanan yang terbaik kepada masyarakat.

Bertempat Jalan Kemakmuran, Kecamatan Sungai Pinang, Samarinda, Gubernur Kaltim, Dr H Isran Noor didampingi Direktur Utama Bankaltimtara, Muhammad Yamin beserta jajaran direksi dan Komisaris Utama, Sulaiman Gafur beserta anggota melakukan Peletakan Batu Pertama (groundbreaking), Rabu (11/11/2020).

Peletakan batu pertama ini sekaligus memulai pembangunan gedung kantor unit usaha syariah di wilayah tersebut.

Dalam acara tersebut Isran Noor menuturkan, Indonesia khususnya Kalimantan Timur dan Kota Samarinda yang mayoritas masyarakatnya adalah Islam sudah sepantasnya mengembangkan unit usaha sesuai syariah.

“Ini sesuai yang diinginkan masyarakat, juga umat Islam, agar salah satu bank yang bersyariat Islam harus dibentuk. Yang penting halal, yang penting di ridhoi Allah Subhannahu Wata’ala, “ucap Mantan Bupati Kutai Timur ini.

Untuk itu Isran berharap, pembangunan gedung tersebut bisa berjalan lancar dan sesuai dengan target dan juga diharapkan mampu meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) dengan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Sementara Dirut Bankaltimtara, Muhammad Yamin membeberkan, Rencananya pembangunan akan dilakukan selama tiga tahun dan ditargetkan akan selesai pada tahun 2022.

Gedung tersebut terdiri dari empat lantai dengan total luas 2.200 meter persegi, pengerjaan total anggaran mencapai Rp 45 miliar.

“Pembangunan dilakukan selama tiga tahun. Tahun pertama Rp 15 miliar, tahun kedua Rp 15 miliar dan tahun ketiga dibayar Rp 15 miliar,” jelasnya.

SAMARINDA– Nilai ekspor Provinsi Kalimantan Timur pada bulan September 2020 mencapai US$ 0,85 miliar atau mengalami penurunan sebesar 4,87 persen dibanding dengan bulan Agustus 2020.

“Bila dibanding sebelumnya pada bulan September 2019 mengalami penurunan sebesar 32,56 persen,”ungkap Kepala BPS Kaltim, Anggoro Dwithjahyono belum lama ini di Samarinda.

Anggoro menguraikan Ekspor barang migas pada bulan September 2020 mencapai US$ 60,25 juta, turun 2,07 persen dibanding bulan Agustus 2020. Sementara ekspor barang non migas bulan September 2020 mencapai US$ 793,84 juta, turun 5,08 persen disbanding bulan Agustus 2020.

Secara kumulatif nilai ekspor Provinsi Kalimantan Timur periode Januari – September 2020 mencapai US$ 9,46 miliar atau turun 22,42 persen dibanding periode yang sama tahun 2019.

Penurunan nilai ekspor bulan September 2020 sangat dipengaruhi oleh turunnya nilai ekspor golongan barang bahan bakar mineral nonmigas (27) dan minyak nabati serta olahannya (15) yang mengalami penurunan sebesar 4,69 persen dan 20,49 persen.

Dari seluruh ekspor periode Januari – September 2020 jelasnya, peranan ekspor barang migas mencapai 9,74 persen sedangkan peranan ekspor barang non migas mencapai 90,26 persen.

Untuk negara tujuan utama ekspor migas Provinsi Kalimantan Timur pada bulan September 2020 adalah Negara Jepang, Tiongkok, dan Pakistan masing-masing mencapai US$ 14,69 juta, US$ 14,27 juta dan US$ 11,51 juta, bebernya.

“Peranan ketiga negara tersebut dalam ekspor migas Provinsi Kalimantan Timur mencapai 67,16 persen terhadap total ekspor pada bulan September 2020,”ucapnya.

Lebih lanjut, hilangnya nilai ekspor migas ke Negara South Korea atau Korea Selatan juga menjadi faktor penyebab turunnya nilai ekspor migas Kalimantan Timur. Dimana pada bulan September 2020 ini muncul transaksi nilai ekspor migas ke Negara Pakistan, Thailand dan Malaysia.

Selanjutnya, Negara tujuan utama ekspor non migas Provinsi Kalimantan Timur pada bulan September 2020 adalah Negara India, Tiongkok dan Philippines, masing-masing mencapai US$ 201,78 juta, US$151,46 juta, dan US$ 79,51 juta.

Penurunan nilai ekspor non migas Provinsi Kalimantan Timur pada bulan September 2020 dipengaruhi oleh turunnya sebagian nilai ekspor ke beberapa negara. Persentase penurunan terbesar ekspor non migas pada bulan September 2020 jika dibandingkan dengan bulan Agustus 2020 terjadi ke Negara Jepang sebesar 21,51 persen, yaitu dari US$ 62,68 juta menjadi US$ 49,20 juta.

Sedangkan persentase kenaikan terbesar terjadi ke Negara Amerika Serikat (USA) sebesar 649,92 persen, yaitu dari US$ 1,91juta menjadi US$ 14,36 juta, imbuhnya.

Samarinda— Wakil Gubernur Kalimantan Timur Hadi Mulyadi menyerahkan bantuan sembako secara simbolis kepada pondok pesantren (ponpes). Kegiatan yang diinisiasi Dinas Sosial (Dinsos) Kalimantan Timur ini dilaksanakan di Aula Dinsos Kaltim, Senin (9/11/2020).

“Bantuan ini memang masih terbatas. Lembaga-lembaga yang memiliki status berhak sebagai penerima bantuan ini banyak. Makanya, sesungguhnya apa yang kami lakukan ini stimulan. Kita tidak mungkin bisa memberikan semua,” tutur Wagub Hadi.

Hadi mengimbau kabupaten dan kota melakukan hal yang sama. Demikian pula perusahaan (swasta) tergerak untuk memberikan bantuan bagi masyarakat yang membutuhkan dalam bentuk CSR. Selanjutnya, dilakukan pengembangan ekonomi kerakyatan.

“Kita tidak akan mati kelaparan selama mau berusaha. Tanah kita ini subur, seperti lagu tongkat batu dan kayu jadi tanaman. Dengan menanam tumbuhan di sekitar rumah untuk konsumsi sendiri, bisa menambah konsumsi kebutuhan pangan harian,” ujar Hadi.

Hadir Kepala Dinsos Kaltim Agus Hari Kesuma. Jumlah bantuan sembako sebanyak 500 paket. Penerima bantuan sembako terdiri 10 yayasan pondok pesantren di Samarinda.

Ponpes penerima bantuan yaitu, Ponpes Hidayatul Mubtadin, Ponpes Hidayatullah Sempaja, Ponpes Rahmatullah Lempake, Ponpes Syaichona Cholil, Ponpes Darus Shofa, Ponpes Al Wa’id Palaran, Yayasan An Nahl, Ponpes Tahfidz Baitul Huffadz, Ponpes Ibadurrahman, dan Panti Asuhan Uswatun Hasanah.

Dok Humas Prov

SAMARINDA—-Laporan terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim mencatat Ekonomi Kalimantan Timur Triwulan III-2020 terhadap Triwulan III-2019 turun sebesar 4,61 persen
(y-on-y).

“Secara year on year (y-on-y) turunnya pertumbuhan Triwulan III-2020 terjadi akibat pandemi COVID-19 yang berdampak pada penurunan kinerja ekonomi di sepuluh lapangan usaha, “kata
Kepala BPS Kaltim, Anggoro Dwithjahyono saat rilis Pertumbuhan Ekonomi triwulan 111 tahun 2020 secara virtual melalui Youtube, Kamis (5/11/2020)

Anggoro mengatakan, lapangan usaha dengan dampak penurunan terbesar yaitu Lapangan Usaha Penyedia Akomodasi dan Makan Minum dengan penurunan sebesar 7,48 persen; Lapangan Usaha Pertambangan dan Penggalian dengan penurunan sebesar 6,69 persen; dan Lapangan Usaha Industri Pengolahan dengan penurunan sebesar 5,35 persen.

Meskipun demikian, masih ada beberapa lapangan usaha yang tumbuh positif, dimana tiga terbesar diantaranya yaitu Lapangan Usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial tumbuh sebesar 16,02 persen; Lapangan Usaha Pengadaan Listrik dan Gas tumbuh sebesar 14,84 persen; dan Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi tumbuh sebesar 6,99 persen.

Dirinya menjelaskan, Ekonomi Kalimantan Timur Triwulan III-2020 dibanding Triwulan II-2020 tumbuh sebesar 2,39 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi secara q-to-q pada Triwulan III-2020 dicapai oleh Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan yang tumbuh sebesar 13,75 persen. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi terjadi pada Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah sebesar 21,84 persen.

Ekonomi Kalimantan Timur secara kumulatif Triwulan I-2020 s.d Triwulan III-2020 terhadap Triwulan I-2019 s.d Triwulan III-2019 turun sebesar minus 2,94 persen (c-to-)

Sementara Perekonomian Provinsi Kalimantan Timur Triwulan III-2020 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp 144,24 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 116,98 triliun, jelasnya.

Dilihat kinerja ekonomi di Pulau Kalimantan, secara umum pertumbuhan ekonomi pada Triwulan III-2020 mengalami penurunan sebesar 4,23 persen dibandingkan Triwulan III-2019 (y-on-y). Akan tetapi, jika dibandingkan dengan kondisi triwulan sebelumnya (q-to-q), kinerja ekonomi Pulau Kalimantan pada Triwulan III-2020 mengalami peningkatan sebesar 2,85 persen.

Dilihat secara kumulatif (c-to-c), pertumbuhan ekonomi Pulau Kalimantan Triwulan I-2020 hingga TriwuIan III-2020 mengalami penurunan sebesar 2,12 persen.

Jika diamati secara spasial, pertumbuhan ekonomi Triwulan III-2020 secara y-on-y menempatkan Kalimantan Utara dengan kontraksi pertumbuhan terendah dibanding wilayah lainnya di Pulau Kalimantan yaitu sebesar 1,46 persen, lalu diikuti Kalimantan Tengah sebesar 3,12 persen, Kalimantan Barat sebesar 4,46 persen, Kalimantan Timur sebesar 4,61 persen, dan Kalimantan Selatan sebesar 4,68 persen, terangnya.

Sedangkan, jika dilihat struktur perekonomian Pulau Kalimantan pada Triwulan III-2020, kontribusi daerah masih didominasi oleh Kalimantan Timur dengan nilai sebesar 46,97 persen, diikuti Kalimantan Barat sebesar 17,42 persen, Kalimantan Selatan sebesar 14,96 persen, Kalimantan Tengah sebesar 12,38 persen, dan Kalimantan Utara sebesar 8,27 persen, beber Anggoro.

SAMARINDA–Luas panen Padi di Provinsi Kalimantan Timur pada 2020 diperkirakan sebesar 72,25 ribu hektar. Mengalami kenaikan sebanyak 2,54 ribu hektar atau 3,65 persen dibandingkan 2019 yang sebesar 69,71 ribu hektar.

Kemudian produksi padi di Provinsi Kalimantan Timur pada 2020 diperkirakan sebesar 262,86 ribu ton GKG. Mengalami kenaikan sebanyak 9,04 ribu ton atau 3,56 persen dibandingkan 2019 yang sebesar 253,82 ribu ton GKG.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Badan Pusat Statistik Kaltim, Anggoro Dwithjahyono saat rilis bulanan secara virtual melalui Youtube, Senin (2/11/2020)

Anggoro mengatakan Produksi padi tertinggi pada 2020 terjadi pada bulan Maret, yaitu sebesar 55,02 ribu ton. Kemudian produksi terendah terjadi pada bulan Januari, yaitu sebesar 2,59 ribu ton.

Kenaikan produksi padi yang relatif besar pada 2020 terjadi di Kota Balikpapan, Kabupaten Berau, dan Kabupaten Kutai Barat, beber Anggoro.

Penurunan produksi padi pada 2020 yang relatif besar terjadi di Kabupaten Mahakam Hulu, Kabupaten Paser dan Kabupaten Kutai Kartanegara. Apabila produksi padi, dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, produksi padi sepanjang Januari hingga September 2020 setara dengan 132,00 ribu ton beras, atau mengalami penurunan sebesar 2,66 ribu ton (1,98 persen) dibandingkan 2019 yang sebesar 134,67 ribu ton.

Selain itu, potensi produksi beras sepanjang Oktober hingga Desember 2020 sebesar 20,10 ribu ton beras. Dengan demikian, potensi produksi beras pada 2020 diperkirakan mencapai 152,11 ribu ton beras, atau mengalami kenaikan sebesar 5,23 ribu ton (3,56 persen) dibandingkan dengan produksi beras tahun 2019 yang sebesar 146,88 ribu ton.

SAMARINDA— Provinsi Kalimantan Timur pada bulan Oktober 2020 mengalami deflasi sebesar -0,18 persen atau terjadi perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 103,44 pada bulan September 2020 menjadi 103,25 pada bulan Oktober 2020.

Sementara Inflasi tahun kalender pada bulan Oktober 2020 sebesar 0,16 persen dan Inflasi tahun ke tahun sebesar 0,60 persen. Hal tersebut diungkapkan Kepala Badan Pusat Statistik Kaltim, Anggoro Dwithjahyono saat rilis bulanan secara virtual melalui Youtube, Senin (2/11/2020).

Deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh turunnya beberapa indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar -0,51 persen; diikuti kelompok transportasi sebesar -0,30 persen; kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya masing-masing sebesar -0,07 persen; kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar -0,05 persen dan Kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar -0,04 persen.

Kemudian dua kelompok menunjukkan peningkatan indeks yaitu kelompok kesehatan sebesar 0,06 persen dan kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,01 persen. Kelompok yang menunjukkan indeks yang stabil dibanding bulan sebelumnya yaitu kelompok rekreasi, olahraga dan budaya; kelompok pendidikan dan kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran.

“Kalau menurut kota pada Oktober 2020 terjadi deflasi untuk Kota Samarinda sebesar -0,21 persen dan di Kota Balikpapan sebesar -0,17 persen,”sebutnya.

Lanjutnya, jika dilihat dari 12 kota IHK di wilayah Pulau Kalimantan empat kota mengalami deflasi dan delapan kota lainnya mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Singkawang (Kalimantan Barat) sebesar 0,35 persen dengan IHK 102,84 dan inflasi terendah terjadi di Kota Palangkaraya (Kalimantan Tengah) sebesar 0,02 persen dengan IHK 104,09.

Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Kota Tarakan (Kalimantan Utara) sebesar -0,28 persen dengan IHK sebesar 105,08 dan deflasi terendah terjadi di Kota Pontianak (Kalimantan Barat) sebesar -0,04 persen dengan IHK sebesar 105,46.

Selain itu, pada 90 kota pantauan IHK nasional, sebanyak 66 kota mengalami inflasi dan 24 kota lainnya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Sibolga (Sumatera Utara) sebesar 1,04 persen dan terendah terjadi di Kota Jakarta (DKI Jakarta), Kota Cirebon (Jawa Barat) , Bekasi (Jawa Barat) dan Jember (Jawa Timur) masing-masing sebesar 0,01 persen. Untuk deflasi tertinggi terjadi di Manokwari (Papua Barat) sebesar -1,81 persen dan terendah sebesar -0,02 persen terjadi di Surabaya (Jawa Timur).