Penajam – Bupati Penajam Paser Utara (PPU) Abdul Gafur Mas’ud meluncurkan Desa Sentra Batik yang merupakan satu-satunya pembuatan batik menggunakan mesin canting di Provinsi Kalimantan Timur, sehingga ia optimistis batik lokal ini akan mampu merambah hingga pasar nasional.

“Saya perhatikan model dan motif batik ini sudah bagus, maka saya kasih nilai 10 untuk Desa Bangun Mulya. Apalagi anak-anak mudanya yang mengenakan batik PPU dalam fashion tadi juga sangat keren,” ujar Abdul Gafur Mas’ud saat peluncuran Desa Sentra Batik di Desa Bangun Mulya, Kecamatan Waru, Kamis, (11/9/2020).

Saat ini, katanya, di Provinsi Kaltim baru ada satu produksi batik yang proses pembuatan batik tulisnya menggunakan peralatan modern, yakni di Desa Bangun Mulya, Kabupaten PPU, sehingga diyakini sentra batik yang baru diluncurkan ini akan terus berkembang.

Berkat alat modern ini, maka pembuatan batik yang seharusnya diselesikan dalam waktu cukup lama sekitar satu bulan, maka kini bisa dilakukan hanya dalam waktu dua jam.

Ia juga kagum karena di desa ini sudah mampu mencetak batik prada seperti yang ia pakai, karena harga baju dengan batik prada itu cukup mahal hingga di atas Rp1 juta per lembar, sehingga ke depan diharapkan batik khas PPU ini bisa menjadi kebanggaan untuk oleh-oleh bagi warga yang berkunjung ke PPU.

“Adanya mesin untuk mendukung produksi batik, berarti saat ini PPU sudah melangkah ke tahap modern yang salah satu buktinya adalah memproduksi batik sendiri dengan mesin canting atau mesin kelowong batik,” katanya.

Ia juga terus mendorong kaum muda bukan hanya memiliki wadah untuk berkarya dalam memproduksi batik, namun juga memiliki warung daring hanya melalui smartphone, baik menjual produk melalui medsos, melalui lapak daring, terlebih jika mampu membangun laman sendiri sebagai wadah untuk memasarkan.

“Saya yakin ke depan PPU akan terus maju, modern, bahkan juga religius seperti yang kita inginkan. Apalagi saat ini di PPU sudah memiliki 3 desa dengan status mandiri, 9 desa maju, dan 18 desa berkembang. Sementara kabupaten lain di Kaltim belum ada desa dengan status mandiri,” katanya.

Tana Paser – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Paser akan menurunkan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) untuk memeriksa dan menginventarisir, keberadaan benda terduga cagar alam yang berada di Dusun Mului Desa Swan Selutung, Kecamatan Muara Komam.

Kepala Bidang Kebudayaan Surpiani mengatakan dalam waktu dekat timnya akan ke Dusun Mului untuk memeriksa secara langsung dan mendata benda-benda terduga cagar budaya.

“Setelah kami memeriksa benda tersebut, kami akan lakukan pendaftaran sehingga nanti terdaftar sebagai data cagar budaya yang ada di Kabupaten Paser” ucap Surpiani, Kamis (10/09/2020).

Surpiani mengatakan ada beberapa prosedur yang harus dilakukan untuk menetapkan benda tersebut sebagai cagar budaya.

“Pertama kami menerima informasi, setelah itu kami akan menurunkan tim untuk melakukan pendataan untuk melihat secara langsung benda yang dilaporkan, kemudian dimasukkan ke database dan didaftarkan,” jelasnya.

Ia menambahkan, apabila benda tersebut sudah terdaftar sebagai benda cagar budaya melalui SK Bupati, maka ada hak yang melekat pada benda tersebut.

“Pemerintah dengan masyarakat bersama-sama harus melindungi, melestarikan dan memelihara benda cagar budaya itu,” ujar Surpiani.

Surpiani mengharapkan dukungan dan partisipasi dari masyarakat untuk dapat menginformasikan tentang benda-benda terduga cagar budaya yang dimiliki oleh masyarakat.

“Kami berharap masyarakat bisa menyampaikan informasi tentang nama bendanya, foto, pemilik, sejarah, kegunaan benda, dan kapan dimiliki. data tersebut perlu kami simpan datanya untuk dimasukkan ke dalam database, yaitu jenis benda pusaka atau benda terduga cagar bidaya yang ada di masayarakat,” harapnya.

Penajam– Bupati Penajam Paser Utara (PPU) Abdul Gafur Mas’ud membuka Workshop Tari yang digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat, guna meningkatkan pemahaman peserta sekaligus untuk melestarikan seni dan budaya lokal.

“Semoga workshop ini dapat menumbuhkembangkan seni tari daerah dan dapat menjadi motivasi bagi masyarakat untuk menjaga kelestarian seni tari di Penajam Paser Utara,” ujar Abdul Gafur Mas’ud (AGM) saat membuka workshop di aula Islamic Center Penajam, Selasa (4/8).

Dalam workshop yang diikuti oleh 30 orang perwakilan sanggar tari se- Kabupaten PPU dan berlangsung selama lima hari pada 4-9 Agustus ini, bupati menyambut baik terhadap terselenggaranya kegiatan yang bertujuan untuk pelestarian sekaligus meningkatkan kecintaan generasi terhadap budaya daerah ini.

Ia menyatakan sangat penting bagi semua pihak untuk bersama-sama melestarikan kebudayaan daerah seperti seni tari ini, salah satunya adalah dengan menggelar diskusikan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan tari daerah hingga kreasinya.

Dalam kesempatan itu AGM juga berharap kepada organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, dan instansi yang membidangi seni budaya agar mampu menggali dan memanfaatkan sumber daya maupun potensi seni budaya daerah.

Menurutnya, masyarakat PPU merupakan masyarakat yang heterogen, sehingga berbagai jenis adat, seni dan budaya juga ada di dalamnya, maka rasa menghargai antara budaya satu dan lainnya harus terus dipupuk, salah satunya melalui seni tari.

“Masing-masing dari kita memiliki kelebihan, semoga kita mampu menciptakan kreasi baru baik dari seni tari, seni musik maupun seni lainnya yang tidak melupakan esensi dasar dari seni dan budaya daerah kita,” ucapnya.

Untuk itu, katanya, hal terpenting dalam berkesenian adalah terus menggali potensi diri dan potensi daerah, kemudian mencintai seni dan tradisi daerah sehingga hasilnya bisa bermanfaat bagi masyarakat luas.

Dalam kesempatan itu, Plt Kepala Disbudpar PPU Andi Israwati Latief mengatakan, workshop ini digelar karena masyarakat Kabupaten PPU yang terdiri dari berbagai suku, dibutuhkan formulasi yang bisa menyatukan seluruh etnis ke dalam sebuah karya seni tari dengan harapan bisa menjadi sebuah karya seni tari khas dari Kabupaten PPU.

“Kami memiliki harapan besar hasil dari workshop ini dapat menyatukan seluruh etnis ke dalam sebuah karya seni tari, yakni adanya tari kreasi yang merupakan gabungan dari berbagai etnis yang tinggal di PPU,” ucap Israwati.

Tana Paser – Kampung Dongeng Paser, Kabupaten Paser membentuk relawan di 10 kecamatan guna menggiatkan budaya membaca sejak usia dini.

“Sudah terbentuk di 10 kecamatan. Seperti di Kuaro mereka aktif melakukan kegiatan ke sekolah-sekolah,” kata Ketua Kampung Dongeng Paser Kasrani, Jumat (15/5).

Sejauh ini kata Kasrani sudah ada 22 pendongeng yang aktif di berbagai kegiatan.

“Para pendongeng kami dari berbagai profesi. Ada guru, polisi, tenaga kesehatan,” ujarnya.

Ia menambahkan saat ini para pendongeng masih membutuhkan jam terbang atau pengalaman lebih banyak.

“Makanya kami nanti mau perbanyak workshop bagi pendongeng. Memang sebagian sudah ada yang banyak pengalamannya,” katanya.

Wakil Ketua Kampung Dongeng Paser, Sulistyo Joko Purnomo mengatakan saat ini sudah ada delapan sekolah yang bekerjasama untuk kegiatan dongeng setiap pekannya.

“Mereka memiliki komitmen untuk menggiatkan budaya literasi disekolah,” ujar Joko.

Bahkan kata ia, ada sekolah di Kecamatan Muara Komam yang sudah menindaklanjutinya berupa kerjasama dengan perusahaan.

Joko berharap budaya literasi anak terutama mendongeng dapat ditumbuhkan sejak dini.

Untuk mewujudkan itu, beberapa orangtua pun juga sudah ada yang dilibatkan dengan diberikan pelatihan cara mendongeng.

“Terutama di sini ada peran orangtua sehingga kegiatan mendongeng bisa mulai dipraktekan di rumah,” ujarnya.

 

SAMARINDA – Jambore Pemuda Daerah (JPD) bertujuan untuk meningkatkan kualitas calon peserta dan menetapkan calon peserta Jambore Pemuda Indonesia (JPI) asal Kaltim yang layak dan baik mewakili Benua Etam di ajang tahunan tersebut yang rencananya di tahun 2020 diselenggarakan di Surabaya, Jawa Timur.

Pun demikian di tahun 2020 ini saat dunia dilanda pandemic Virus Corona (Covid 19) penyelenggaraan JPI masih belum ada kepastian mengenai jadi tidaknya dilaksanakan dari Kemenpora RI.
Hal ini disampaikan Kadispora Kaltim, Muhamammad Syirajudin saat memimpin rapat Dispora se-kaltim yang dilaksanakan dengan Video Conference Zoom, Senin (4/5/2020).


“Hingga pelaksanaan rapat ini, Kementerian Pemuda dan Olahraga belum memastikan jadi atau tidaknya kegiatan yang biasanya dilaksanakan bersamaan dengan Hari Sumpah Pemuda tersebut dilaksanakan. Saya sudah berkomunikasi beberapa kali bertanya di WA grup Dispora Indonesia, namun tidak mendapat tanggapan dari pihak Kemenpora khususnya terkait kepastian pelaksanaan,”katanya menanggapi pertanyaan peserta rapat.

Dari rapat tersebut juga diketahui bahwa 3 Kabupaten/Kota di Kaltim memastikan diri tidak mengikuti JPD Kaltim yang akan dilaksanakan di Tenggarong, Kutai Kartanegara. Ketiga daerah tersebut yakni Kota Bontang, Kutai Timur dan Kutai Barat.

“Kami memohon maaf tidak dapat mengikuti Jambore Pemuda Daerah tahun ini dikarenakan anggaran untuk mengikuti kegiatan tersebut telah dialihkan untuk penanganan pandemi Covid 19,”ujar Kadispora Bontang, Bambang Cipto Mulyono.


Hal senada juga disampaikan oleh Kadispora Kutai Timur, Basrie. Dirinya mengutarakan sebagaimana intruksi Bupati Kutim bahwa sebagian besar anggaran dinas dialihkan untuk membantu penanganan Covid-19.

“Sangat disayangkan Kubar, Kutim dan Bontang gak mengikuti Jambore Pemuda kali ini, artinya ada 21 Pemuda, dimana tiap daerah diwakili 7 orang pemuda, yang kehilangan kesempatan menunjukkan potensinya untuk mengikuti Jambore Pemuda Indonesia dan bertemu dengan seluruh pemuda di tanah air,”sayang Syirajudin.

Kaltim sendiri sebenarnya merupakan Provinsi pertama yang menggelar JPD sebagai ajang seleksi bagi pemuda sebelum mengikuti JPI pada tahun 2012 lalu dan tahun ini sejatinya merupakan gelaran yang ke delapan.

 

Sumber : Dispora Kaltim

Samarinda— Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Samarinda Puji Setyowati resmi membuka galeri Dekranasda yang berada di Jalan S.Parman (belakang taman cerdas), Selasa (10/3).

Dalam kesempatan tersebut dirinya mengatakan galeri ini merupakan tempat sampel produk yang sudah terakurasi dengan baik oleh Dekranasda maupun pihak terkait seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Selain itu,  galeri Dekranasda sebagai wadah untuk mengapresiasi kerajinan para pengrajin lokal.

“Produk yang ada sudah diakurasi dengan baik. Mulai dari kain tenun, kain batik, hingga berbagai hiasan manik-manik yang bisa dijadikan buah tangan dan diperkenalkan ke seluruh masyarakat yang berkunjung ke galeri,” tuturnya.

Diakui Puji, selain memajang produk kerajinan, galeri tersebut juga dilengkapi dengan fasilitas mini teater yang bisa dipenuhi oleh 30 – 40 orang. Ruangan ini diperuntukkan bagi tamu yang ingin melihat perkembangan Usaha Kecil Menengah di Samarinda dalam bentuk visual.

“OPD lain bisa menggunakan, tak hanya produk UMKM saja, namun juga produk pertanian atau apapun yang berkaitan dengan pusat informasi bisa diolah dalam bentuk video dan bisa dibawa kemari maksimal 40 orang,” paparnya.

Karenanya, Puji meminta kepada Organisasi Perangkat Daerah dan Perbankan untuk dapat mengarahkan para tamu yang datang ke Samarinda untuk berkunjung ke galeri Dekranasda.

“Kami titip kepada OPD dan dunia perbankan untuk bisa diarahkan kesini, kami siap untuk memberikan cinderamata terbaik kepada para tamu. Terima kasih dukungan Pemkot, ini kami persembahkan untuk masyarakat Samarinda,” ucap Puji.

Sebelum peresmian dilakukan, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Samarinda bersama Walikota Samarinda melakukan ramah tamah dengan siswa-siswi Sekolah Dasar

 

Peresmian Galeri Dekranasda oleh Ketua Dekranasda Kota Samarinda didampingi Walikota Samarinda. Peresmian ditandai dengan pemotongan pita dan dilaksanakan pada Selasa, 10 Maret 2020

 

Acara kemudian dilanjutkan dengan syukuran dan potong tumpeng serta doa bersama agar Galeri ini dapat bermanfaat dengan baik

 

Ketua Dekranasda dan Walikota Samarinda mencoba untuk membatik dengan menggunakan canting. Tak lupa apresiasi keduanya dengan para pengrajin dan desainer yang sudah meramaikan industri kerajinan Kota Samarinda

 

Sumber foto: @iam_cdnp

Samarinda—Sebanyak 45 calon peserta Duta Wisata dan Putri Pariwisata Kota Samarinda 2020 mengikuti pembekalan materi yang berlangsung di ruang rapat lantai 2 Balai Kota, Senin (2/3).

Adapun pemateri yang hadir pada hari ini ada dari PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) Kaltim, Imam Taufik Malik , Dr. Phil Maria Teodora Ping untuk sesi English class dan sesi Beauty Class by la Tulipe LA Tulipe.

Dalam kesempatan itu Kepala Dinas Pariwisata Kota Samarinda melalui Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Sumber Daya Pariwisata, M. Firman menuturkan tujuan dari pelaksanaan ini guna menambah pengetahuan bagi para duta pariwisata, berkaitan dengan materi yang di berikan pada pagi ini yakni tentang bahaya penyebaran virus HIV/AIDS.

“Inilah kita bekali, agar mereka juga bisa ikut mensosialisasikan kepada masyarakat khususnya dunia kepariwisataan tentang bahaya virus HIV/AIDS,” ujar Firman.

Firman juga menyampaikan dari total 45 peserta terdiri 15 Putri Pariwisata, 15 Duta Wisata Putra dan 15 Putri akan mengikuti rangkaian kegiatan dari tanggal 12 hingga 14 Maret 2020.

“Untuk tanggal 12 Maret mereka akan mengikuti uji kompetensi kepariwisataan dan wawasan pariwisata serta umum. Sementara tanggal 14 maret akan mengikuti uji bakat,” jelasnya.

Dirinya berharap, melalui pembekalan ini mampu meningkatkan kemampuan para duta wisata Kota Samarinda baik wawasan dan pengetahuan tentang potensi dan wisata daerah, maupun kepribadiannya yang berkarakter budaya. (Diskominfo/Rey)

Samarinda— Buddhist Center Samarinda Kalimantan Timur yang berada di Jalan D.I.Panjaitan Samarinda Utara, akan menggelar kegiatan yakni Cap Go Meh Art And Culture Festival pada 15-16 Februari 2020.

Ketua Perhimpunan Umat Budha Indonesia (Permabudhi) Kaltim, Romo Pandita Hendri Suwito mengatakan, kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian perayaan Imlek 2571. Bazaar dan festival seni budaya ini sudah menjadi event tahunan bagi Buddhist Center, yakni perayaan Cap Go meh dan Moon Cake Festival.

“Sudah jadi agenda tahunan even yang ada di Buddhist Center yang pertama Cap Go meh Art And Cultur Festival  dan Moon Cake Festival ini dilaksakan berturut-turut. Sebenarnya kami hanya terlambat menginformasikan, tahun depan akan lebih cepat lagi sehingga bisa dimasukan kalender tahunan pemerintah Provinsi dan Kota,” kata Hendri.

Dikatakannya bahwa kegiatan ini tidak hanya terbatas bagi komunitas Tionghoa semata, namun terbuka untuk masyarakat umum yang ingin menikmati perayaan imlek. Kegiatan ini juga ditujukan untuk masyarakat luas agar menikmati dan merasakan bersama kebahagiaan dalam jalinan keharmonisan sebagai satu keluarga.

Direncanakan kegiatan akan dihiasi 1000 Lampion Pelangi, Bazaar Vegetarian , Foto Booth Atraktif, Berbagai Atraksi Seni Budaya Barongsai, Naga, Tarian Klasik, Dayak, Bali dan Kaligrafi, Orkestra, Borneo Cantata, Dewa Rejeki, Fashion Show dan berbagai Acara menarik lainnya. Tak ketinggalan spesial acara pertunjukkan Seniman Suling dari Bali yang sudah mendunia.

Gelaran “Saroeng Festival” 2020 masih dalam rangkaian HUT Kota Samarinda ke 352 dan Pemkot Samarinda ke 60, dimana akan ada banyak pengrajin sarung samarinda memamerkan produk unggulan kriya khas kota Tepian tersebut.

Mulai Kamis hingga hari Minggu akan memperkenalkan beberapa outlet produk unggulan sarung samarinda dan kriya unggulan seperti kerajinan manik, batik, rajut, kaos dan kayu sehingga masyarakat mengenal produk unggulan kota Samarinda

Akan ada beragam hiburan dengan mendatangkan artis untuk memeriahkan acara tersebut diantaranya acara Temu dan Jumpa artis Ria Ricis serta Elizabeth Cristine. Juga bakal di hibur oleh Ifan Seventeen, ditutup pada malam senin dengan acara Anniversary ke 3 komunitas Gibol Sparta.